Tahun Pertama

Juli 2020

Selama 16 tahun aku hidup, aku tidak pernah menyangka diberi kesempatan untuk menimba ilmu di Altaire International School. Sekolah yang dulu hanya bisa kupandangi dari luar gerbangnya saja, kini aku dapat menginjakkan kedua kakiku di lantainya yang dilapisi marmer berwarna coklat susu.

Dengan sepatu hitam baru yang kudapatkan dari papa sebagai kado kelulusan SMP, aku melangkah mantap memasuki gerbang sekolah baruku yang megah. Aku juga tidak dapat berhenti berdecak kagum selama menyusuri koridornya. Maklum saja, segala sudut sekolah ini berbeda 180 derajat dengan sekolahku saat SMP dulu.

Aku terlalu asyik berkeliling hingga aku tersasar entah ke mana. Ini juga hal lain yang membedakan sekolahku dulu dengan SMA Altaire; sekolah ini sangat luas!

“Hai, maaf aku mau tanya, ruang Tata Usaha di mana, ya?” tanyaku sopan pada salah seorang siswi yang lewat di depanku.

Sekilas perempuan itu memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum menjawab pertanyaanku.

“Yuk, bareng. Gue juga mau ke sana.”

Aku mengangguk patuh, lalu aku mulai berjalan membuntuti siswi itu. Dari belakang aku memperhatikan dengan seksama perempuan itu; rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan jepit berbentuk pita kecil berwarna pink yang disematkan di sisi kanan kepalanya. Ransel mini berwarna hitam mewah dengan gantungan boneka beruang mini sebagai hiasannya menempel manis di punggungnya.

“Pasti salah satu top tier di sini, deh,” batinku dalam hati setelah beberapa saat menilai gaya perempuan itu.

“Udah sampe!” ucapnya bersemangat. Ia mempersilahkan aku untuk masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.

Staff Tata Usaha menyambutku dengan senyuman ramah, tapi kemudian pandangannya teralihkan kepada perempuan yang mengantarku.

“Kesha, selamat, ya … Akhirnya jadi siswi SMA juga …”

Kesha—begitulah caraku mengetahui nama perempuan yang membantunya tersenyum lebar menanggapi sapaan staff Tata Usaha itu.

“Hehe, iya nih, Mbak.”

“Ada perlu apa, Kesha?” tanya staff Tata Usaha itu.

“Aku nanti aja, dia aja dulu,” jawab Kesha sambil menunjuk diriku yang berdiri canggung, lalu ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

“Oh iya, maaf, kamu ada perlu apa?”

“Saya mau ambil buku Agama sama PPKN, kemarin waktu saya ambil buku, dua buku itu belum dateng, jadi saya disuruh ambil pas hari pertama sekolah,” jawabku menjelaskan maksud dan tujuanku.

“Oh oke, boleh tau nama kamu siapa? Dan juga kelas berapa?”

“Cecilia Daniela, kelas 10A.”

Setelah memasukkan namaku ke dalam data di komputernya, staff Tata Usaha itu kembali mengajakku berbicara. “Cecilia duduk di sofa dulu, ya, saya ambilkan dulu bukunya di belakang.”

Aku hanya mengangguk lalu bergabung dengan Kesha yang masih duduk di sana. Perempuan itu kini sedang memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu menggunakan airpods.

“This thing called love, I just can’t handle it. This thing called love, I must get ‘round to it, I ain’t ready, crazy little thing called love …”

Kepalaku refleks menoleh ke arah Kesha yang sedang bersenandung dengan salah satu lagu dari penyanyi kesukaanku.

“Suka Queen juga?” Aku memberanikan diri untuk bertanya, tapi sepertinya Kesha tidak terlalu mendengar jelas pertanyaanku, karena itu ia melepas airpodsnya dan memintaku mengulang pertanyaanku. “Tadi lo nanya apa?”

“Suka Queen juga?”

Ku lihat Kesha mematikan Apple Music di ponselnya sebelum menjawab pertanyaanku.

“Iya. Lo juga suka?”

Aku mengangguk antusias. “Suka banget!!”

Kesha pun ikut antusias. “Ih parah, gue kemarin liburan ke UK, gue visit rumahnya Freddie Mercury, terus kemana lagi ya …” Kesha berhenti sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. “Oh! Terus gue ke Liverpool juga, sekalian ikut The Beatles tour. Biasalah, bokap gue.”

Kesha mengakhiri ceritanya dengan tawa kecil, sepertinya ia sedang kembali membayangkan masa-masa liburannya kemarin.

Sementara aku hanya tersenyum tipis, aku semakin yakin kalau Kesha adalah top tier di sekolah ini, berbeda jauh sekali dengan aku yang cuma murid biasa yang beruntung bisa bersekolah di sini karena beasiswa.

Aku hanya bisa melihat sejarah Queen dari Youtube, sementara Kesha bisa merasakan langsung di negaranya.

“Eh, btw gue seneng banget ketemu orang yang sama-sama suka Queen kayak gue!” Kesha kemudian mengulurkan tangannya ke arahku, “temenan, yuk! Kenalin, gue Kesha Gianina Anantara.”

Detik itu juga aku tau kenapa dia berbeda denganku; dia adalah putri tunggal dari pemilik yayasan Anantara, yayasan yang membiayai beasiswaku di SMA Altaire, yang merupakan sekolah milik yayasan itu.

“Cecilia Daniela,” jawabku kikuk.

“Mulai sekarang kita bestfriend, ya!”

Mataku sedikit membelalak, kaget mendengar apa yang diucapkan Kesha barusan.

Please don’t feel awkward around me, gue gak mau diperlakuin special cuma karena gue Anantara. Anggep gue sama kayak lo, ya?”

Aku yang masih agak tidak percaya dengan ajakan bertemannya barusan hanya mengangguk-angguk canggung, sementara Kesha kini menyodorkan iPhone nya kepadaku.

“Kasih gue nomor lo, biar kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.”

Aku menurut, menekan tombol angka di layar sentuh ponselnya lalu mengembalikan ponsel itu kepada Kesha.

“Cecilia.” Staff Tata Usaha memanggilku. Aku meninggalkan Kesha sebentar untuk mengambil buku Agama dan PPKN milikku. Selesai menandatangani kertas serah terima buku, aku kembali menghampiri Kesha.

“Kesha, kamu masih ada perlu di sini? Aku udahan, nih, sekarang mau ke kelas,” ucapku masih dengan nada canggung.

Kesha menggeleng lalu ia bangkit berdiri dari sofa, “Urusan gue bisa nanti, yuk, kita ke kelas. Anyway gue juga kelas 10A,” balasnya sambil menggandeng lengan kiriku dan mengajakku keluar dari Tata Usaha.

Inilah awal mula pertemanan aku dan Kesha di tahun pertamaku.