That’s What Friend are for

Kale tersenyum lebar saat melihat Sabrina menghampiri dirinya yang sudah bersiap di atas motor matic andalannya.

“Nih, helmnya,” ujar Kale sambil memberikan helm penumpang yang selalu tersedia di motornya.

Sabrina tidak berkata apa-apa, ia segera memakai helm itu dan mengancinginya. Walaupun hanya makan nasi goreng gerobakan di depan kompleks, Kale selalu mengutamakan keselamatan, salah satunya dengan penggunaan helm.

Let’s go,” gumam Kale pelan lalu motornya segera meluncur keluar dari garasi rumahnya menuju depan kompleks perumahan mereka.

Karena sudah cukup sering makan di sana, abang nasi goreng itu sudah hafal dengan pesanan Kale dan Sabrina. Cukup dengan Kale bilang, “Bang, biasa ya, dua,” sang penjual nasi goreng itu langsung mengangguk tanda ia mengerti.

“Capek ya, kerja seharian?” tanya Kale setelah keduanya diam cukup lama karena tidak tahu mau membahas apa.

“Udah biasa,” jawab Sabrina pelan.

“Tapi biasanya nggak sekusut ini,” balas Kale lagi dan kali ini Sabrina hanya diam. Mungkin kusut di wajahnya masih terbawa dari pembicaraan dirinya dengan Ghea dan juga Kale tadi siang.

“Lagi banyak pikiran aja. Gue pindah kantor aja kali, ya?”

Kale mengerutkan dahinya bingung. “Suddenly?

Sementara Sabrina membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, gue ngerasa lingkungan kerja gue makin nggak sehat.”

“Ada yang jahatin lo di kantor?”

Sabrina tersenyum tipis mendengar nada bertanya Kale yang menyiratkan kalau lelaki itu sedang khawatir pada dirinya.

“Nggak ada, cuma rasanya makin hari orang-orang makin nggak suka sama gue. Awalnya gue nggak peduli, tapi kalo terus-terusan begini, gue perlu mempertanyakan dong, gue ada salah apa?”

Kale kali ini mengangguk paham. “Coba aja besok lo tanyain langsung, Sab. Biar nggak kepikiran terus. Soalnya gue nggak suka kalo liat lo cemberut kayak gini.”

Kalimat terakhir Kale sukses membuat Sabrina salah tingkah sendiri di dalam hatinya.

“Yang satu pedes telur dadar, yang satu lagi nggak pedes telur ceplok,” ucap abang nasi goreng sambil menaruh dua piring di hadapan Kale dan Sabrina.

“Minumnya apa, bos?” sambung si abang nasi goreng sumringah.

“Teh botol dingin, dua,” jawab Kale disambut anggukan abang nasi goreng itu.

Thanks ya, Kal,” gumam Sabrina pelan tapi terdengar cukup jelas di telinga Kale. “Thanks udah selalu berupaya untuk ngehibur gue biar gue nggak bete-bete amat. Maaf kalo tadi siang gue jutek sama lo.”

Kale tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. “I told, ya, that’s what friend are for.

Sabrina membalas senyuman Kale, sementara hati dan pikirannya kembali bergumul.

“Kale, it’s getting weird to hear that phrase from you.”