One Fine Day
Kalau bukan karena Ghea, Sabrina tidak akan berada di basement Plaza Senayan sore ini. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit, tapi perempuan itu masih diam di dalam mobil Honda Brio merahnya karena ia masih ragu.
Sekitar 15 menit kemudian, pesan teks dari Ghea datang, membuyarkan bayangan-bayangan buruk yang mampir di kepala Sabrina.
Ghea 15 menit lagi
Sahabatnya yang memiliki tubuh mungil itu tidak bilang banyak hal, tapi Sabrina tahu betul apa maksudnya. Akhirnya setelah merapal berbagai doa yang diyakini dapat membantu dirinya untuk melawan rasa takut dan ragu, Sabrina keluar dari mobilnya.
Berbekal info 'berpakaian serba hitam dan rambut berwarna silver', Sabrina datang ke tempat yang dijanjikan. Saat itu suasana lobi bioskop tidak terlalu ramai, mungkin karena film-film yang diputar di tiap teater masih berlangsung atau sudah selesai.
Dari pintu masuk, Sabrina dapat melihat lelaki yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan Ghea. Tubuhnya tinggi, rambut silvernya mencolok di antara pengunjung lainnya. Sayangnya lelaki itu memunggungi pintu masuk, membuat Sabrina tidak dapat melihat wajahnya.
Walaupun ragu Sabrina menghampiri lelaki itu, tapi semakin mendekati laki-laki itu ia justru semakin ragu. Dan ketika ia memutuskan untuk berbalik arah, laki-laki itu justru memergokinya dan memanggil namanya.
“Sabrina Janitra.”
Suara yang tidak asing di telinga Sabrina. Ia pun segera menoleh kembali untuk memastikan dugaannya salah, tapi ternyata ia tidak salah; yang memanggilnya adalah laki-laki yang terakhir kali tanpa permisi mencium bibirnya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Sabrina dingin.
Kale menunjuk rambutnya, “Gue cowok yang janjian sama lo jam empat sore di sini.”
Sabrina mendengus tertawa pahit kala menyadari warna rambut Kale; lelaki itu benar-benar mewarnai rambutnya dengan warna silver.
“Lo nge-DM Ghea?”
Kale menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Emang seharusnya gue nggak usah dateng,” gumam Sabrina kecewa, kemudian ia kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Kale.
“Sab,” panggil Kale sambil meraih tangan Sabrina, menghentikan langkah kaki perempuan itu. “Khusus hari ini aja, anggep gue as blind date lo. Kita nggak pernah saling kenal satu sama lain dan kita ke sini cuma buat have fun aja,” sambung Kale lagi.
Sabrina melirik ke arah tangan Kale yang masih memegang tangannya, mengisyaratkan agar lelaki itu melepas pegangannya.
“Ya nggak bisa lah, Kale. Gimana caranya gue pura-pura nggak kenal sama lo? Aneh.”
“Bisa, buat hari ini aja. Kalo perlu jangan panggil gue Kale.” Kale lalu menjulurkan tangan kanannya, “Kenalin, gue Juan.”
Sabrina hanya memandangi tangan itu sesaat kemudian memilih untuk kembali pergi meninggalkan Kale.
“Sab, you still have 5 minutes before 4.30 pm!” ucap Kale agak keras agar Sabrina dapat mendengar kalimatnya.
Begitu keluar dari bioskop itu, Sabrina menghela nafas kasar. Tangannya dengan cepat mencari nomor telfon Ghea dan segera menghubunginya. Tapi sayang, nomor Ghea sedang sibuk.
Sabrina melirik ke tangan kirinya, kini tersisa dua menit sebelum jarum panjang jam tangannya berada persis di angka enam. Ia harus sesegera mungkin membuat keputusan yang tidak boleh ia sesali di masa mendatang.
-
“Hai Juan, gue Sabrina.”
Tepat pukul empat lewat tiga puluh menit, Sabrina berdiri di belakang Kale slash Juan dengan tangan kanannya yang terulur. Kale berbalik, membalas uluran tangan Sabrina sambil tersenyum lebar.
“Gue udah beli tiket buat pertunjukan jam 4.45. Mau beli cemilan atau minum?” tawar Kale sambil berjalan menuju tempat penjualan makanan dan minuman di bioskop.
“Film apa?”
Kale mengeluarkan tiket dari kantongnya dan menunjukkannya pada Sabrina. “Shang-Chi.”
Sabrina hanya mengangguk, lalu perempuan itu mendekatkan diri pada kasir yang kosong untuk memesan camilannya.
“Mbak, popcorn nya yang asin...” ucapannya terhenti seketika, mengingat ini adalah 'agenda' blind date nya dengan Juan, bukan Kale. Ia benar-benar mau berusaha berperilaku seolah-olah dia sedang bersama dengan Juan, bukan Kale.
“Sebentar, ya, Mbak,” sambung Sabrina lalu ia menoleh ke arah Kale yang sedang memainkan ponselnya. “Juan, lo mau popcorn rasa apa?” tawar Sabrina.
Kale menyimpan ponselnya lalu ia mendekati kasir, berdiri tepat di sisi kanan Sabrina. “Hmm ... Karamel, deh.”
“Minumnya?”
“Mineral Water aja.”
“Oke. Saya juga sama, ya, Mbak. Jadi masing-masing dua.”
Setelah beres memesan camilan untuk menonton sore itu, Kale segera mengajak Sabrina masuk ke dalam studio karena pengumuman dari bioskop menyatakan film yang mereka pilih akan segera dimulai.
Sepanjang film berlangsung, Kale sepenuhnya fokus menonton tapi tidak dengan Sabrina. Ia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki yang tadi memilih untuk duduk di sisi kanannya itu. Sesekali ia mencuri pandang, memperhatikan struktur wajah Kale saat ia tertawa atau saat ia sedang serius.
“Gimana? Suka nggak sama filmnya?” tanya Kale setelah dua jam lebih mereka berada di dalam teater. Sambil berjalan keluar dari bioskop, Sabrina hanya mengangguk pelan.
“Laper, nggak? Gue laper, nih,” ucap Kale lagi, “makan di Pepper Lunch, mau nggak? Atau lo mau makan di mana, gitu?” sambung Kale bertanya.
“Pepper Lunch aja nggak papa, gue lagi nggak kepengen apa-apa,” jawab Sabrina sederhana. Karena sudah tau tujuan mereka selanjutnya, keduanya segera pergi menuju restoran yang letaknya tidak jauh dari bioskop.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya mereka selesai memesan dan makanan mereka pun sudah tersaji di hadapan keduanya. Kale hanya mengucapkan 'selamat makan' pada Sabrina sebelum ia mulai menyantap Beef Pepper Rice-nya.
Selama makan, hampir tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka sibuk menghabiskan makanan masing-masing. Hanya sesekali keduanya sibuk sendiri dengan ponsel mereka; Kale entah sibuk bertukar pesan dengan siapa, sementara Sabrina sibuk menghujani Ghea dengan puluhan pesan teks yang isinya sudah bisa dipastikan tertulis dalam huruf kapital.
“Kalo gue ajak ngopi, perut lo masih sanggup nggak?” tanya Kale setelah dilihatnya hot plate milik Sabrina sudah kosong.
Sabrina tersenyum tipis, “Tenang, selalu ada tempat buat kopi di perut gue.”
Kale pun refleks ikut tersenyum dan mereka berdua segera pergi meninggalkan restoran itu untuk berkeliling sebentar sebelum pergi menuju destinasi akhir mereka; kedai kopi.
-
Beruntung kafe pilihan Sabrina tidak meminta ia dan Kale untuk masuk dalam daftar tunggu; mereka langsung diizinkan untuk masuk dan duduk di meja di sudut ruangan yang dikhususkan untuk dua orang.
“Ice Latte, gulanya dipisah, ya, Mas,” pesan Sabrina cepat lalu ia beralih kepada Kale, “lo pesen apa?”
“Americano aja, ice.”
Karena pesanannya mudah dan sedikit, dalam waktu singkat dua minuman milik mereka sudah langsung tersaji di atas meja. Sabrina menuang sedikit gula cair ke dalam minumannya lalu mengaduknya dengan sedotan, menciptakan bunyi khas dari es batu yang saling bertabrakkan di dalam gelas.
“Sabrina sibuk apa sekarang?” Kale memulai percakapan di antara keduanya. Ia benar-benar berperan seolah-olah baru pertama kali bertemu dan berkenalan dengan perempuan itu.
“Hah? Oh, um ... gue sibuk kerja di event organizer. Kalo lo?” Sabrina juga melakoni perannya dengan cukup baik.
“Gue barista di kedai putri duyung ijo.”
Perlu sepersekian detik untuk memahami jawaban Kale. “Oh,” dan hanya itu respons yang dapat diberikan Sabrina.
“Kerjaan lancar, Sab?” tanya Kale lagi.
“Ya ... Begitulah. Masalah, mah, ada aja tiap saat. Tapi so far baik-baik aja. Lo juga, kan?” Sabrina mengembalikan lagi pertanyaannya kepada Kale.
Kale mengangguk. “Yes, sama kayak lo.”
Lalu setelah itu keduanya diam. Kale sibuk memainkan sedotan minumannya lalu sesekali menyeruput isinya, sementara Sabrina tidak berhenti memperhatikan Kale.
Kalau 'Kale' biasanya sudah menghabiskan dua batang rokok saat ini, ternyata tidak dengan 'Juan'. 'Kale' juga biasanya sudah bermain mobile game kalau mereka sedang tidak ada topik pembicaraan, tapi 'Juan' tidak. Dalam hati Sabrina mengagumi niat Kale tentang pertemuan mereka hari ini, tapi juga ada sedikit rasa kecewa yang terbesit.
“Abis ini mau kemana lagi?” tanya Kale memecah keheningan di antara mereka.
“Nggak ada, kayaknya gue balik. Emang lo mau pergi lagi?”
“Nggak juga, tapi nggak tau, deh. Mungkin gue muter-muter dulu. Bosen di rumah.”
“Emang ke sininya naik apa?” tanya Sabrina penasaran. 'Kale' yang ia kenal sudah pasti akan menjawab mobil, tapi ternyata 'Juan' menjawab berbeda.
“Motor. Males macet-macetan.”
Alasan saja, aslinya memang Kale sudah merencanakan hari ini ia akan sebisa mungkin berbeda dari biasanya yang Sabrina kenal.
“Yaudah, kalo gitu balik deh, yuk? Minuman lo udah abis, kan?” ajak Kale sambil ia bangkit dari duduknya.
Sabrina mengiyakan dengan sebuah anggukan dan setelah itu Kale langsung pergi ke kasir untuk membayar pesanan mereka.
-
“Parkir di mana?” tanya Kale lagi saat mereka sudah keluar dari kafe.
“B1. Kalo motor parkir di mana?”
“Gue parkir sebelah, biar murah, hehehe ...”
Sabrina hanya membulatkan bibirnya tapi dalam hatinya ia tersenyum, ternyata masih ada 'Kale' di dalam diri laki-laki yang tengah berjalan berdampingan dengan dirinya saat ini.
“Gue anter ke mobil lo, ya?” tawar Kale.
Sebenarnya Sabrina ingin menolak, tapi mulutnya seperti terkunci dan tidak menjawab apa-apa, membuat Kale menganggap itu sebagai jawaban 'ya' dari dirinya.
Sampai di mobil Sabrina, perempuan itu segera membuka kuncinya dan mengucapkan salam perpisahan pada Kale.
“Thanks, ya, Juan. Udah jadi temen jalan gue hari ini. Hati-hati baliknya.”
“Sure! Lo juga hati-hati, ya, nyetirnya!” balas Juan riang lalu ia melambaikan tangan singkat kepada Sabrina dan pergi meninggalkan basement itu.
Setelah beberapa langkah Kale berjalan menjauh dari mobil Sabrina, lelaki itu dapat mendengar suara heels milik Sabrina mengejar dirinya.
“Juan!” panggil Sabrina lalu sedetik kemudian Kale dapat merasakan perempuan itu memeluknya erat dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung bidang milik Kale.
“Gue nggak tau sekarang gue lagi peluk Juan atau Kale, sorry ... but please let me to hug you just for now,” ucap Sabrina pelan.
Kale diam mematung, ia hanya melirik ke kedua tangan Sabrina yang melingkari perutnya. Cengkramannya semakin erat memeluk tubuh rampingnya.
“Sab,” panggil Kale setelah beberapa saat mereka diam. Sabrina melepaskan pelukannya dan mengizinkan Kale untuk berbalik menatap dirinya.
“Terima kasih, udah mau pergi jalan-jalan sama gue hari ini. It was a beautiful one fine day with you. Terima kasih udah kasih gue kesempatan buat bisa sama-sama lo tanpa mikirin status kita apa dan siapa.
“Besok dan seterusnya, anggap aja hari ini nggak pernah ada. Gue akan kembali jadi tetangga dan sahabat buat lo. Oke?”
Mendengar kalimat Kale, Sabrina memberanikan diri mendekatkan wajahnya dengan Kale dan mencium bibir merah muda milik lelaki itu.
“Kale, maaf ... Maaf gue selalu bikin lo bingung. Maaf karena gue sendiri nggak tau sama perasaan gue,” ucap Sabrina pelan.
Kale menangkup wajah Sabrina dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata yang mulai mengalir di pipi perempuan itu dengan lembut.
“No need to say sorry, Sab.”
Sabrina mengangguk-angguk, mencoba mengiyakan kalimat Kale. Kale tersenyum lalu sekali lagi ia menghapus air mata Sabrina. “Hati-hati, ya, pulangnya. Nyetirnya jangan sambil main HP.”
Sabrina kembali mengangguk sambil mengusap kembali sisa air mata di wajahnya. Kemudian Kale merangkul bahu Sabrina dan kembali mengantarkan perempuan itu ke mobilnya.