“It’s My Day, But …”

Kalau acara makan malam ulang tahun Kesha kemarin didominasi oleh kerabat bisnis orang tua Kesha, maka acara pesta ulang tahun yang dirayakan hari Sabtunya didominasi oleh teman-teman sekolah Kesha. Seluruh siswa SMA Altaire diundang ke acara yang diselenggarakan di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Satu persatu tamu undangan Kesha mulai berdatangan. Setelah menaruh kado dan berfoto dengan segala properti dan backdrop yang bertuliskan “Kesha's Sweet Seventeen” di dekat pintu masuk, para tamu dipersilahkan masuk dan dapat langsung menikmati makanan yang disuguhkan malam itu.

Kesha sebagai tuan rumah pun berkeliling, menghampiri tamu alias teman-temannya yang sudah hadir malam itu, untuk berterima kasih dan tentu saja untuk kembali mendapat ucapan selamat ulang tahun.

“Cecil!!” panggil Kesha heboh saat melihat Cecilia sedang mengobrol bersama teman-teman sekelasnya yang lain.

Kesha segera menyeruak di antara gerombolan teman-temannya. “Ini nggak ada yang mau selfie bareng? Mumpung ada gue, nih,” tanya Kesha dengan percaya diri.

Mendengar kalimat Kesha yang terkesan sedikit sarkas memaksa, teman-temannya pun mau tak mau segera mengeluarkan ponsel mereka dan bergantian mengambil foto bersama, ada juga yang membuat instastory.

“Cil, lo dateng sama siapa?” tanya Kesha setelah sesi foto-fotonya selesai.

“Bokap, Sha.”

“Pulangnya bareng bokap juga?”

Cecilia mengangguk. “Iya. Sekarang dia lagi nunggu di McD Kemang.”

“Yaampun, kasian amat. Lo harusnya ngomong sama gue, biar gue siapin tempat khusus buat bokap lo nunggu di sini.”

Kali ini Cecilia menggeleng. “Nggak papa, Sha. Kalo begitu bokap malah nggak mau, hehehe ...”

Kesha mengangguk-angguk paham. “Lo liat Winwin nggak? Kok belum dateng, ya?” Kesha mengganti topik pembicaraannya.

Cecilia refleks melihat ke sekelilingnya. “Nggak, Sha. Mungkin telat.”

Kesha mendengus kesal. “Padahal dia tamu spesial,” gerutu Kesha pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Cecilia. “Yaudah deh, Cil, gue tinggal dulu. Have fun, ya! Makan yang banyak! Jarang-jarang ‘kan lo bisa makan makanan yang kayak ada di sini malem ini.”

Kesha segera berpamitan dengan Cecilia untuk melanjutkan sesi tegur sapanya dengan teman-temannya yang lain, menyisakan Cecilia yang hanya tersenyum masam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kesha padanya.

“Cil, lo kok betah banget sih deket-deket sama dia?” celetuk salah satu teman sekelasnya yang sedari tadi berdiri di dekatnya.

Cecilia tersenyum simpul. “Kesha emang gitu kan, orangnya. Nggak usah terlalu dipusingin,” balas Cecilia tenang. “Temenin gue ambil makanan, yuk? Laper nih!”

Ajakan Cecilia disambut dengan anggukan mantap dari temannya itu.

***

Birthday bash Kesha berlangsung meriah, setelah sesi tiup lilin dan potong kue, sekarang tiba saatnya sesi games. Hadiah yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung, mulai dari voucher belanja, voucher makan hingga doorprize utama sebuah iPhone series terbaru.

“Oke, sekarang kita akan masuk ke games terakhir sebelum pengundian doorprize,” ucap sang MC setelah memberikan hadiah kepada pemenang di games sebelumnya. Ia menoleh ke arah Kesha, “yuk, Kesha, bisa dipilih siapa yang bakal main di games terakhir ini.”

Radar Kesha menyebar ke seluruh penjuru ruangan, lalu ia tersenyum dikulum. “BFF aku, Cecilia! Terus ... dari anak Science ... Albert, Donna sama satu lagi cowok terserah, deh!”

Cecilia sedikit terperangah mendengar namanya dipanggil, sementara yang lain terlihat excited naik ke atas panggung. Donna menyeret pacarnya, Robby, membuat Cecilia otomatis berpasangan dengan Albert.

“Games terakhir adalah ... Pepero games!”

Begitu MC mengumumkan nama permainan yang akan dimainkan, suasana langsung semakin riuh. Donna dan Robby sebagai sepasang kekasih terlihat percaya diri mereka akan memenangkan permainan ini, sementara Cecilia terlihat tidak nyaman.

“Rileks aja, Cil, kalo kena juga gapapa kali,” canda Albert, dengan harapan Cecilia tidak akan grogi lagi, tapi yang dirasakan perempuan itu justru sebaliknya.

MC segera memberikan sebatang pepero kepada masing-masing pasangan; kedua pasangan itu pun segera bersiap, termasuk Cecilia yang mau tidak mau harus mengikuti permainan ini sampai akhir.

Pepero Games itu segera dimulai; tamu undangan yang tidak ikut bermain menjadi supporter, mendukung pasangan pilihannya masing-masing. Sementara para pemain berkonsentrasi, sebisa mungkin membuat potongan pepero yang mereka gigit sependek mungkin.

Jarak antara Cecilia dan Albert semakin dekat, hingga seperti tidak tersisa ruang di antara kedua wajah mereka, Cecilia memilih untuk memejamkan matanya karena perasaannya yang campur aduk; takut, panik dan grogi menjadi satu.

Tiba-tiba Cecilia merasakan tangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang, membuat dirinya setengah oleng tapi untungnya tidak sampai jatuh.

Sorry, Cecil nggak perlu ikutan mainan murahan kayak gini.”

Kalimat singkat itu diucapkan dengan nada dingin oleh Winwin dan sukses membuat euphoria Pepero games itu runtuh dalam hitungan detik. Tanpa basa-basi, Winwin menggandeng tangan Cecilia dan segera mengajak perempuan itu keluar dari venue pesta ulang tahun Kesha.

Sampai di luar venue, Winwin melepas jaket kulit hitam yang ia kenakan dan menyampirkannya di bahu Cecilia. “Pulang sama Papa?”

Cecilia hanya mengangguk, dengan kepalanya yang tertunduk lemas.

“Cil, lo nggak papa, kan?”

Cecilia mengangguk lagi.

“Kalo gitu liat gue.”

Sayangnya permintaan Winwin tidak bisa langsung Cecilia kabulkan, membuat lelaki itu kembali mengajaknya berbicara.

“Cil ...”

Dengan ragu Cecilia mengangkat wajahnya, manik matanya yang berwarna coklat bertemu dengan milik Winwin. Lelaki itu segera memberikan senyuman terhangatnya.

“Yuk, gue anter ke Papa. Papa nunggu di mana?”

“McD Kemang, Kak ...”

“Oke.”