Kak Win dan Papa

Tidak memerlukan waktu lama untuk Winwin dan Cecilia tiba di McD Kemang, tempat di mana ayah Cecilia menunggu. Dari luar, Cecilia dapat melihat ayahnya tengah sibuk membaca novel dengan secangkir kopi menemaninya.

“Papa persis lo, ya, hobi baca,” komentar Winwin, mengundang senyum tipis di bibir Cecilia.

Cecilia melepas jaket kulit yang dipinjamkan Winwin padanya. “Thank you, ya, Kak. Hati-hati pulangnya.”

Sebelum Cecilia pergi dari hadapannya, Winwin kembali bersuara. “Cil, lo nggak papa, kan?” Lagi, pertanyaan yang sama dilontarkan oleh lelaki itu.

“Nggak papa, kok. Tadi agak kaget aja sih, sama game-nya, tapi sekarang udah nggak papa. Suer, deh,” jawab Cecilia dengan kedua jarinya membentuk peace sign.

Winwin mengangguk mengerti. “Yaudah ayo masuk, gue temenin sampe ketemu Papa.”

“Eh, nggak usah, Kak ...”

“Ayo ...” ajak Winwin kali ini sambil sedikit merangkul bahu Cecilia, membuat perempuan itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Winwin.

Sampai di meja ayah Cecilia, Winwin menyapa pria paruh baya itu dengan ramah. “Malam, Om.”

Ayah Cecilia mengangkat kepalanya, mendapati putrinya yang terlihat salah tingkah berdiri berdampingan dengan seorang lelaki yang ia cukup kenal.

“Halo, Damian Winarta, ya?” tanya ayah Cecilia tak kalah ramah.

“Iya, Om.”

“Oh, ini yang namanya Damian ... Cecil banyak cerita tentang kamu ke saya.”

“Ih, Papa! Kapan coba aku ceritanya? Ngaco ah.”

Protes Cecilia mengundang senyum penuh arti dari Damian, sementara ayahnya sendiri hanya terkekeh pelan sambil menutup buku bacaannya dan menyeruput kopi hitamnya yang tersisa di cangkir.

“Baca novel apa, Om?”

Ayah Cecilia membolak-balikan buku novel yang ia pegang sebelum menjawab pertanyaan Winwin. “Nggak tau, ini saya ambil dari rak bukunya Cecil.”

“Cecil punya rak buku khusus, Om?”

“Oh, ada. Gede banget. Tadinya mau dibuatkan untuk hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tapi karena keliatannya sekarang kalau di kamar, Cecil kayak tidur sama buku, akhirnya saya sama mamanya buatkan sekarang aja.”

Cecilia hanya menunduk karena malu mendengar ayahnya yang dengan santainya bercerita tentang dirinya kepada Winwin.

“Kalo saya main-main ke rumah Cecil, boleh Om? Saya juga penasaran sama koleksi bukunya Cecil.”

Kali ini Cecilia langsung melirik ke arah Winwin dengan ekspresi terkejutnya.

“Boleh, dong. Kapan Damian mau main, dateng aja. Nanti kita ngobrol-ngobrol sambil baca bukunya Cecil.”

“Ah, siap, Om ...” balas Winwin sambil tersenyum senang ke arah Cecilia. Cecilia membalas senyuman itu dengan senyuman awkward miliknya.

“Acaranya sudah selesai? Kenapa Cecil nggak chat Papa? Malah dianter sama Damian ...” ucap ayah Cecilia kepada putri tunggalnya. Belum sempat Cecilia menjawab, ayahnya sudah beralih berbicara kepada Winwin. “Damian, makasih ya, udah antar Cecil. Hari Kamis kemarin juga udah antar jemput dia.”

Wajah Winwin terlihat sedikit memerah. “Iya, Om, sama-sama. Next time kalau ada acara seperti ini lagi dan Om ngga bisa antar, biar Cecil sama saya aja, Om. Saya sama sekali nggak keberatan.”

Ayah Cecilia hanya mengangguk tanda ia menyetujui tawaran dari Winwin. Kini ia kembali beralih ke putrinya yang sedari tadi merasa salah tingkah sendiri. “Yuk, pulang. Biar kita nggak kemaleman. Biar Damian juga nggak kemaleman pulangnya.”

“Iya, ayo, Pa,” balas Cecilia cepat. Bukannya ia mau berpisah cepat-cepat dengan Winwin, tapi ia tidak mau ayahnya semakin membeberkan hal pribadinya kepada Winwin. Entah kenapa ia merasa belum siap untuk hal itu.

“Sekali lagi, makasih ya, Damian. Saya dan Cecil pamit dulu,” ucap ayah Cecilia sambil bangkit dari duduknya dan menepuk pelan bahu Winwin.

“Kak, makasih, ya ...” Cecilia pun ikut berpamitan dengan Winwin.

Winwin hanya mengangguk pelan. “Hati-hati ya, Om, Cecil ...”

Winwin terus memandangi Cecilia dan ayahnya sampai keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya, walaupun tadi ia sempat merasa kesal, tapi setelah pertemuannya dengan ayah Cecilia, suasana hatinya membaik.

Bisa jadi juga perjalanan singkatnya dengan Cecilia barusan menjadi alasan dibalik senyuman lebarnya malam ini.

***

“Gimana acara ulang tahunnya Kesha malem ini, Nak?” tanya ayah Cecilia sambil mengemudikan kendaraan roda empatnya.

“Bagus, Pa. Seru juga,” jawab Cecilia sederhana.

Saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah dan mobil ayah Cecilia terpaksa harus berhenti, ayah Cecilia menoleh ke arah putrinya.

“Maaf ya, Nak, Papa dan mama nggak bisa bikinin pesta kayak Kesha untuk kamu.”

Cecilia menoleh karena jujur saja ia merasa bingung. Ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan pesta ulang tahunnya karena ia sadar betul dengan kondisi keluarganya. Baginya pesta ulang tahun bukanlah sesuatu yang wajib.

“Papa sempat kepikiran, kamu juga pasti kepengen kan, dirayain kayak Kesha?”

“Hah? Nggak kok, Pa. Aku nggak papa, nggak perlu dirayain. Banyak hal yang lebih penting daripada pesta.”

Ayah Cecilia tersenyum sambil mengusap puncak kepala putrinya sebelum ia kembali mengemudi.

“Anak Papa ternyata udah dewasa ...” gumam ayah Cecilia pelan. “Selain bijak, pinter di bidang akademik, anak papa juga pinter pilih cowok.”

Kalimat terakhir ayah Cecilia membuat perempuan itu kembali menoleh, lengkap dengan ekspresi kaget dan bingungnya. “Hah? Apa maksud Papa?”

“Kamu naksir Damian, kan?”

“Nggak, kok!”

Ayah Cecilia tertawa pelan mendengar reaksi putri tunggalnya. “Kalo naksir nggak papa, kok. Papa setuju. Papa juga suka sama Damian. Kapan-kapan diajak ke rumah, ya? Damian harus nyobain mie ayam buatan Papa, pasti dia suka.”

“Ah, Papa! Malu ah!”

“Tuh, kan ... Kalo malu tandanya naksir ...” goda ayah Cecilia. Sementara Cecilia sendiri hanya bisa pasrah dengan bersandar malas di kursi penumpang. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, melihat jalanan Sabtu malam yang selalu lebih ramai dari biasanya.

Mungkin saat ini mulutnya menyangkal apa yang dikatakan ayahnya barusan. Bibirnya sedikit mengerucut karena ayahnya tidak berhenti menggoda dirinya. Tapi jauh di lubuk hati Cecilia, perempuan itu seperti sedang meledak-ledak; seperti ada banyak kupu-kupu yang sedang memenuhi perutnya.