Revealing the Truth
Tepat pukul 7 malam, mobil Lamborghini merah milik Winwin terparkir di lobi hotel Kempinski. Setelah menukar kunci mobilnya dengan tiket valet parking, Winwin segera pergi menuju restoran tempat di mana ia, Kesha dan kedua orang tua mereka akan makan malam bersama.
“Nah, akhirnya Damian dateng ...” ucap ayah Kesha yang duduknya menghadap pintu ruang privat yang mereka gunakan. Winwin sedikit membungkuk sopan, kemudian menyalami kedua orang tua Kesha sebelum duduk di sisi kanan ibunya, tepat di seberang Kesha.
“Dimakan appetizer-nya, Damian.” Kali ini giliran ibu Kesha yang angkat bicara. Winwin hanya mengangguk pelan lalu mulai menyumpit dimsum yang tersaji sebagai makanan pembuka malam itu.
“Oh iya, kemarin waktu acara ulang tahun Kesha, Om malah belum ucapin selamat ke Kesha buat olimpiadenya. Selamat ya, Kesha ...”
Kesha tersenyum tipis. “Makasih banyak, Om,” jawabnya dengan nada bicara malu-malu. Persis di depannya, Winwin menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit dimengerti Kesha.
“Gimana sekolahnya, Kesha? Kalau ada kesulitan, tanya aja sama Damian. Dia pasti bakal bantuin, kok ... Kalo dia nggak mau bantuin, laporin aja ke Om.”
Kalimat terakhir dari ayah Winwin membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Winwin.
“Sekolah saya baik, Om. Nggak nyangka, ya, ternyata perjuangan buat bisa dapet slot olimpiade sesulit itu. Trus karena olimpiade aku juga jadi—
“Sulit?” tanya Winwin dengan nada bicara sarkas. Ia kemudian bangkit berdiri, menghampiri ayah Kesha dan menyerahkan ponsel milik Kesha kepada ayahnya.
“Maksa Mr. Robert untuk kasih privat tutor ke lo dan akhirnya maksa Cecilia untuk keluar dari olimpiade, lo sebut itu sulit, Sha?” Winwin memperjelas pertanyaannya. Di sisi kirinya ayah Kesha sibuk membaca isi chat Kesha dengan Mr. Robert dan Cecilia.
“Kesha, ini benar?” tanya ayah Kesha sambil mengangkat sedikit ponsel putrinya.
Kesha yang terlihat panik buru-buru bangkit dari kursinya dan hendak mengambil ponselnya dari ayahnya, tapi Winwin sukses mencegahnya.
“Lepasin!” bentak Kesha.
“Nggak, sebelum lo ngakuin perbuatan lo ke Cecilia kemarin di sini,” balas Winwin dingin. Keduanya saling menatap satu sama lain; Kesha dengan tatapan amarahnya sementara Winwin dengan tatapan tajam khas miliknya.
“Oh iya, di dalam room chat Kesha dan Cecilia, Om dan Tante juga bisa nemuin chat Kesha yang selalu maksa Cecilia buat pergi ke luar supaya dapet izin dari Om dan Tante. Aslinya Kesha pergi sama cowok namanya Javier,” sambung Winwin kemudian.
“Bohong, Pa!”
“Bohong darimananya, Kesha? Semua jelas ada di dalam chat ini!” balas ayah Kesha dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. “Kenapa kamu ngelakuin ini semua, Kesha? Kenapa kamu harus bohong sama Papi Mami?”
“Karena Papi dan Mami nggak pernah percaya sama Kesha! Papi Mami juga nggak sayang sama Kesha! Kesha punya segalanya, tapi Kesha nggak pernah bisa dapetin apa yang Kesha mau! Sementara Cecilia nggak punya apa-apa, dia selalu bisa dapetin apa yang dia mau! Papi Mami selalu sibuk sama urusan kalian masing-masing, sementara papi maminya Cecilia selalu hadir tiap ada acara di sekolah!”
Kedua orang tua Kesha tertegun mendengar jawaban dari putri semata wayangnya. Mereka tidak menyangka kalau ternyata selama ini Kesha menyimpan dendam yang tercipta dari kurangnya perhatian yang mereka berikan.
“Setelah selalu maksain Cecilia dengan kehendaknya, kemarin Kesha ngefitnah sahabatnya sendiri.” Winwin kembali bersuara, ia kemudian mengambil ponselnya sendiri dan memutar rekaman percakapan Kesha dan Geko yang ia salin dari ponsel Kesha.
Ayah Kesha hanya diam, ia memandangi Kesha yang terduduk lemas di lantai sambil menangis. Istrinya berada di sisi Kesha, berusaha menenangkan putrinya.
Pandangannya lalu beralih ke kedua orang tua Winwin yang mulai beranjak dari tempat duduknya. “Mas Winarta, mau ke mana? Menu utama makan malamnya belum dateng, kan,” tanya ayah Kesha dengan nada kebingungan.
“Maaf sekali, Mas Yogi. Sepertinya acara makan malam ini harus batal. Dan juga, saya harus mempertimbangkan kembali donasi yang akan saya berikan ke Yayasan Anantara,” jawab ayah Winwin datar dan dingin, tidak berbeda jauh dengan anaknya.
“Tapi Mas, masalah Kesha nggak ada hubungannya dengan donasi Yayasan Anantara.”
Kedua orang tua Winwin berhenti melangkah, kemudian ayah Winwin berbalik dan kembali menanggapi kalimat dari ayah Kesha. “Jelas sekali ada hubungannya, Mas Yogi. Baik buruknya sebuah yayasan tentu saja dimulai dari pemiliknya. Kalau seperti ini cara Mas Yogi mendidik Kesha, saya jadi ragu bagaimana Mas mengelola yayasan dan juga para penerima beasiswa.”
Setelah selesai berbicara, kedua orang tua Winwin kembali berbalik dan pergi meninggalkan ruangan privat itu, disusul oleh Winwin yang berjalan di belakang keduanya.