Obrolan Bujang
Winwin tiba di Lawson, sebuah minimart tempat di mana ia suka nongkrong bersama Traven dan Yeremia, tidak lama setelah Traven sampai. Setelah memesan es kopi susu dan onigiri favoritnya, lelaki itu duduk di bangku sebrang Traven.
“Yere nggak ikut?” tanya Traven setelah menghembuskan asap rokok yang dihirupnya ke udara bebas.
“Nggak. Dia lagi ada bimbel,” jawab Winwin lalu ia menyeruput es kopinya.
Keduanya diam sebentar sebelum akhirnya Traven kembali bersuara.
“Kenapa lo?” tanya Traven singkat. Wajah kusut Winwin tidak mampu membohongi lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak sekolah dasar.
“Cecil atau Kesha?” sambung Traven lagi.
“Cecil. Kesha mah ngapain diurusin.”
“Are you sure? Lo kan semacam dijodohin gitu sama Kesha.”
Tanggapan Traven atas kalimat Winwin sebelumnya mengundang lirikan tajam Winwin. “Lo kalo mau ngomong coba difilter dulu. Jangan sembarangan.”
“Ya, practically lo lagi dalam masa perjodohan karena bisnis, Win. Tunggu aja Kesha lulus, pasti lo langsung disuruh ngelamar tuh bocah.”
“Kita ke sini bukan buat bahas Kesha and her parents, ya.”
Traven berdeham, “Oh iya, sorry. So, Cecil kenapa?”
“Lo udah tau kan kalo dia ditembak Geko?” Dan pertanyaan Winwin segera dijawab Traven dengan anggukan cepat. “Yaudah, daritadi yang gue sama Yere omongin di grup tuh, ya, mereka,” sambung Winwin lagi.
Traven membulatkan bibirnya dan ber-oh-ria secara padu. “Gue pikir siapa.”
“Dasar lemot.”
“Diem. Trus? Jadian? Atau engga?”
“Nggak,” jawab Winwin menggantung, mengundang raut wajah Traven yang meminta ia untuk melanjutkan jawabannya. “Tapi dari alasannya gue jadi tau kalo dia emang nggak mau pacaran.”
“Lo naksir Cecil?” tanya Traven polos.
Winwin melempar kertas bekas bungkus sedotan ke arah Traven. “Emang lemot, ya, elo.”
“Lho, gue nanya?! Lo beneran naksir Cecil? And you have more intention for making her as your girlfriend?“
Winwin menjawab pertanyaan Traven dengan anggukan pelan.
“Dan alasan dia nolak Geko bikin lo mikir, kalo lo nembak dia saat ini juga, dia akan nolak lo?”
Winwin kembali mengangguk dan kali Traven berdecak pelan. “Ckckck ...”
“Masalahnya, gue udah tau kalo Cecil suka gue, Ven.”
Traven yang semula duduk bersandar malas di bangku plastik milik Lawson, langsung mengubah posisinya jadi duduk secara tegak. “Hah? Lo tau dari mana?”
“Long short story, dia pernah nggak sengaja confess ke gue. Lucu kalo diinget-inget. Dan karena hal itu juga yang ngeyakinin gue buat ngedeketin dia dan segera nembak dia,” jawab Winwin.
“Tapi lo jadi ragu karena alasan dia nolak Geko barusan?”
Untuk ketiga kalinya Winwin mengangguk untuk menjawab pertanyaan Traven.
Traven kembali bersandar malas di bangkunya sambil menyeruput es kopinya. Satu batang rokok sudah habis, kini ia membakar yang kedua.
“Nih gue kasih tau, ya. Cecil emang suka sama lo, tapi bukan berarti dia siap pacaran sama lo. Bisa aja alasan yang dia kasih ke Geko itu emang bener. Apa sih alesan cewek-cewek seusia Cecil? Paling klasik, kan? 'Gak boleh pacaran sama papa' atau 'mau serius sekolah dulu'.”
Traven diam sebentar sambil menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya pelan ke udara, sementara Winwin setia menunggu jawaban lengkap dari sahabatnya sambil menyantap onigirinya.
“Jadi, gue saranin ke elo, lo nya harus sabar. Temenan biasa aja dulu. Jangan sampe Cecil jadi nggak nyaman sama lo.”
“Oh iya, Cecil juga tau masalah gue suruh Yere,” potong Winwin cepat.
“Nah, itu aja udah bikin dia nggak comfortable, Win.”
“Dan satu lagi, Cecil itu suka ngejauhin gue karena Kesha. Gue kan jadi sebel. Gue sama Kesha nggak ada apa-apa gitu, lho.” Winwin kembali menyambung ucapan Traven.
“Kata lo nggak ada apa-apa. Tapi kan lo tau sendiri Kesha suka lebay kalo udah berurusan sama lo. Belum lagi dia merasa bokap nyokap lo dan bokap nyokapnya mendukung hubungan kalian. Dan belum lagi kalian dijodoh—”
“Gue udah bilang gue sama Kesha nggak ada apa-apa, Traven.” Nada bicara Winwin meninggi saat memotong kalimat Traven, tapi lelaki kurus yang duduk berseberangan dengannya malah tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, iya iya, kalem, Bos.” Traven berusaha untuk menghentikan tawanya. “Balik lagi ke Cecil, saran gue tadi coba jalanin. Bersikap biasa aja. Dengan begitu dia juga bakal merasa lo nggak push dia. Paham, nggak?”
“Paham, paham ...” jawab Winwin pelan lalu ia melahap sisa onigirinya hingga tersisa plastik pembungkusnya saja.
“Ribet juga jadi cowok ganteng. Untung gue biasa aja gantengnya,” gumam Traven sendiri tapi terdengar cukup jelas di telinga Winwin. Winwin hanya menanggapi gumaman Traven dengan memutar bola matanya.