Chaotic

Masih merasa sedikit kesal karena Cecilia tidak mau menyusulinya ke kafetaria, Kesha segera menghabiskan ice milo miliknya dan pergi meninggalkan kafetaria sekolahnya. Jam pelajaran yang kosong siang itu ternyata tidak seindah bayangannya. Teman-teman sekelasnya cenderung berkumpul secara bergerombol, membuat dirinya sulit untuk bergabung.

Kesha berjalan menyusuri lorong dengan langkah gontai. Ia memang memiliki segalanya, seluruh penjuru sekolah juga kenal dengan dirinya, tapi ia selalu merasa kesepian, membuat ia merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Langkah kaki Kesha membawa perempuan itu sampai di lobi gedung sekolahnya. Di sana ia menemukan beberapa kakak kelasnya termasuk Gerald Kosasih, atau yang akrab disapa Geko.

“Geko!” panggil Kesha riang sambil menghampiri lelaki itu.

“Jam kosong, ya?” tanya Geko setelah memisahkan diri dari teman-temannya. Teman-teman Geko pergi ke luar sekolah karena sebuah urusan, sementara Geko izin akan menyusuli mereka setelah ia selesai mengobrol dengan Kesha.

Kesha mengangguk. “Iya, nih. Ma'am Sandara nggak masuk, katanya sakit.”

“Nggak ada tugas?”

“Udah, tapi udah beres.”

Kesha kemudian duduk di kursi meja piket yang tak berpenghuni sementara Geko berdiri dan bersandar di meja itu. Mata Kesha menangkap microphone yang selalu digunakan guru piketnya untuk mengumumkan sesuatu di sekolahnya. Kemudian ia melirik cepat ke arah Geko yang sedang memperhatikan hal lain dan dalam seketika otaknya memikirkan sebuah skenario yang 'menarik'.

“Oh iya! Geko, lo belum cerita kemarin jalan sama Cecil ngapain aja,” ucap Kesha kembali membuka percakapan di antara mereka. Jari tangan kanannya menekan tombol rekam di voice memos ponselnya.

Doing nothing. Cuma muter-muter, ke H&M sama ke Gramed.”

“Dia beli baju?” pancing Kesha lagi.

“Oh itu ... iya, gue beliin aja abis kasian banget, masa tiap liat baju, diliat juga sih price tag nya. Is she that poor? Masa purchase baju dua ratus ribu aja nggak bisa, sih?”

Kesha tersenyum dikulum, berusaha untuk tidak tertawa mendengar jawaban Geko yang tidak menyadari kalau percakapan mereka sedang direkam olehnya.

“Jangan dibiasain tau, Ge. Gue kasih tau ya, dia tuh awalnya doang keliatan nolak. Setelah itu mah pasti bakalan nagih minta beliin lagi. Nih, gue contohnya. Sekali anter jemput dia, eh keterusan. Sekarang setiap pergi dia selalu minta anter jemput gue,” timpal Kesha dengan wajah sok memelas. “Trus trus, makan siang apa kalian?” Kesha semakin sengaja memancing Geko dengan pertanyaan lainnya.

“Paulaner Brauhaus! Gila, susah banget ngajak dia makan enak. Padahal gue udah bilang gue bakal bayarin, dia nolak mulu dengan alesan nggak enaklah, susah mau gantinyalah. Hello, emangnya gue sama miskinnya kayak dia? Didn't she ever hear about Kosasih Corp?” Geko menjawab pertanyaan Kesha dengan berapi-api dan diakhiri dengan ia memutar bola matanya karena kesal.

Calm down, calm down,” timpal Kesha setenang mungkin, padahal hatinya sedang gegap-gempita, tidak sabar untuk melaksanakan skenario di otaknya.

“Eh, gue harus cabut. Ini udah di chat sama Alfian.”

Kesha hanya mengangguk-angguk membalas kalimat Geko. Lelaki itu pun segera pergi meninggalkan Kesha seorang diri di meja piket.

Setelah kepergian Geko, Kesha memperhatikan keadaan sekeliling lobi sekolahnya. Sepi, tidak ada siapapun di sana karena jelas saja jam pelajaran masih berlangsung hingga jam dua belas lebih sepuluh menit.

Perlahan Kesha menekan tombol on pada microphone di meja piket itu. Ia menekan tombol play pada voice memos ponselnya dan begitu rekaman percakapannya dengan Geko mulai, Kesha segera pergi meninggalkan meja piket itu.

*

Jam pelajaran kosong digunakan Cecilia dengan membaca novel barunya, sambil mendengarkan musik menggunakan headset dari ponselnya di perpustakaan. Hanya ada Cecilia dan beberapa teman sekelasnya di perpustakaan itu, membuat suasana perpustakaan tidak terlalu berisik.

Tiba-tiba terdengar suara percakapan Kesha dan Geko di speaker sekolahnya. Karena Cecilia masih asyik mendengarkan musik, ia tidak menyadari hal tersebut hingga temannya melepas paksa headsetnya.

“Cecil!” desis Kevin, teman sekelas Cecilia yang melepas headset dari telinga perempuan itu. Awalnya Cecilia ingin protes, tapi suara Kesha dan Geko di speaker sekolahnya menghentikan niatnya.

“Jangan dibiasain tau, Ge. Gue kasih tau ya, dia tuh awalnya doang keliatan nolak. Setelah itu mah pasti bakalan nagih minta beliin lagi. Nih, gue contohnya. Sekali anter jemput dia, eh keterusan. Sekarang setiap pergi dia selalu minta anter jemput gue.”

Cecilia bangkit dari kursinya dengan ekspresi tak percaya dan mundur selangkah, membuat ia menabrak kursi yang ia duduki tadi.

“Trus trus, makan siang apa kalian?”

“Paulaner Brauhaus! Gila, susak banget ya ngajak dia makan enak. Padahal gue udah bilang gue yang bakal bayarin, dia nolak-nolak mulu dengan alesan nggak enaklah, susah mau gantinyalah. Hello, emangnya gue sama miskinnya kayak dia? Didn't she ever hear about Kosasih Corp?”

Kalimat berikutnya terlalu sulit untuk didengar oleh Cecilia. Pandangannya sudah mengabur, pelupuk matanya penuh dengan air yang siap tumpah kapan saja. Kevin yang tadi menarik headset Cecilia berusaha mengajak perempuan itu untuk bicara tapi Cecilia tidak menggubrisnya. Ia segera menyambar novelnya dari meja perpustakaan dan pergi dari situ.

Cecilia berlari sekuat tenaga menuju kelasnya. Ia tahu siapa dalang di balik ini semua. Tapi langkah kakinya terhenti saat dilihatnya teman-teman sekelasnya sedang menunggui dirinya di depan kelas.

Cecilia pun segera balik badan, tapi suara sepatunya menyadarkan teman-temannya akan kehadirannya.

“Cecil! Wah, nggak gue sangka, ternyata ...”

“Bohong! Gue nggak kayak gitu!” potong Cecilia, suaranya menggema mengisi lorong sekolah yang sunyi sepi.

Jawaban Cecilia seolah-olah sulit untuk dipercaya oleh teman-temannya. Mereka justru dengan sengaja berbisik-bisik membicarakan Kesha dan keluarganya.

“Nggak heran sih gue, mana mungkin anak kayak Cecil temenan sama Kesha tanpa ada maksud terselubung?”

“Oh iya, lo tau nggak sih kalo bokapnya Kesha tuh cuma jualan mie ayam doang?”

“Ugh, she's so gross.

Cecilia tidak dapat berdiri berlama-lama lagi di situ, ia pun segera pergi berlari meninggalkan sekolahnya, tanpa mempedulikan Yeremia yang terus memanggil namanya.

“Tau nggak, yang menjijikan tuh lo-lo semua!” geram Yeremia dengan tatapan tajamnya, lalu ia juga segera pergi dari sekolahnya untuk mengejar Cecilia.