Guidance
“Cil?”
Suara hangat Winwin menyapa dari ujung telepon Cecilia. Cecilia berdeham pelan sebelum membalas sapaan Winwin.
“Kenapa, Kak?” tanya Cecilia pelan.
“Sini, biar gue bantuin lo kasih tau kalo pulang dari GI ke Cibubur gimana.”
Cecilia diam. Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi dari mana Winwin mengetahui kondisinya saat ini. Dan juga untuk apa mengelak, kala ia memang sedang butuh bantuan untuk pulang.
“Makasih sebelumnya, Kak,” balas Cecilia sopan.
“Pertama, biar cepet lo naik MRT dulu sampe Senayan. Jalan ke stasiun MRT dari GI agak jauh, sih. Gapapa, kan?”
Cecilia mulai melangkah keluar dari Grand Indonesia sambil menjawab pertanyaan Winwin. “Nggak papa kok, Kak.”
“Oke.”
“Abis naik MRT aku naik apalagi, Kak?” Gantian Cecilia yang bertanya.
“Naik MRT aja dulu. Teleponnya jangan diputus, gue temenin selama lo di perjalanan.”
“Hah?”
“Bentar, Cil. Gue bikin kopi dulu, ya. Lo kabarin kalo udah sampe Senayan. Kabarin juga kalo ada apa-apa.”
“Oke, Kak.”
Karena memakai headset, Cecilia dapat menyimpan ponselnya di dalam tas. Ia berjalan dalam diam, dengan suara sendok dan gelas beradu di seberang telfon, tanda lawan bicaranya di sana memang benar sedang menyeduh segelas kopi.
“Udah di mana, Cil?” tanya Winwin setelah hampir sepuluh menit meninggalkan Cecilia di telepon.
“Udah di stasiun MRT. Ini keretanya udah dateng.”
“Oke, kalo gitu naik dulu. Kabarin kalo udah mau sampe Senayan.”
Cecilia menuruti Winwin. Sepanjang Bundaran HI sampai Senayan, Cecilia hanya diam, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk bergantian di setiap stasiun, hingga kereta yang ditumpanginya tiba di Senayan.
“Kak, aku udah nyampe Senayan,” ucap Cecilia sesuai pesan Winwin beberapa saat lalu.
“Oke. Sekarang ke halte Transjakarta, terus di sana naik bis jurusan Pinang Ranti. Mungkin agak lama, tapi tungguin aja. Biar lo nggak bete, gue pasangin lagu, ya …”
Cecilia yang bingung harus menjawab apa lagi-lagi hanya terdiam. Tidak lama setelah Winwin selesai berbicara, terdengar alunan lagu soft jazz yang dipasang Winwin untuk Cecilia.
“Sengaja gue pasang lagu kayak gini, biar lo nggak panik. Udah dateng belum, bisnya?”
“Belum, Kak. Di TV yang di halte tulisannya 15 menit lagi.
“Yaudah tungguin aja, itu cukup akurat, kok.”
Dan kembali Cecilia menunggu sesuai arahan Winwin, seraya mendengarkan playlist yang dipasang mantan kakak kelasnya itu untuk dirinya.
“Kak, bisnya dateng.” Suara Cecilia membuyarkan keadaan tenang di antara mereka berdua.
“Oke, duduknya jangan paling belakang. Deket sopir aja, yang bangku khusus cewek.”
“Itu buat ibu-ibu hamil, Kak.”
Cecilia dapat mendengar Winwin tertawa pelan. “Maksud gue yang deretan sebelahnya, Cil.”
“Oh, hehehe ... oke, Kak.”
“Btw, kabarin gue kalo udah sampe halte BNN.”
“Oke, Kak.”
Suara playlist milik Winwin kembali mengisi kedua telinga Cecilia, menemani perempuan itu hingga tiba di halte yang disebutkan Winwin tadi.
“Kak, aku udah di BNN.”
“Oke, abis ini halte UKI. Lo turun di sana dan ganti bis ke halte BKN. Tanya petugasnya aja, ya, pintunya yang mana buat nunggu bis yang ke halte BKN.”
“Oke, siap, Kak.”
Semua ajaran Winwin dilakukan Cecilia dengan baik. Begitu turun dari bis, Winwin dapat mendengar cukup jelas suara Cecilia yang bertanya di mana pintu untuk menunggu bis yang dapat membawanya ke halte BKN. Sambil menyeruput kopinya, Winwin tidak dapat berhenti tersenyum bangga.
“Udah dapet, Cil?”
“Udah, Kak! Ini bisnya juga udah dateng.” Terdengar suara Cecilia jauh lebih riang dibandingkan beberapa saat lalu.
“Oke, itu jaraknya cuma satu halte aja, Cil. Jangan sampe kelewatan, ya. Nyampe BKN kabarin lagi.”
“Oke, Kak.”
Dan benar, sesuai perkataan Winwin, bis itu dengan cepat tiba di halte BKN yang hanya berjarak satu halte dari halte Cawang UKI.
“Kak, aku udah di BKN,” lapor Cecilia.
“Oke, sekarang lo tinggal tunggu bis yang ke arah Cibubur.”
“Hah? Serius, Kak? Ini udah mau nyampe?!” tanya Cecilia tidak percaya dengan nada bersemangat, tapi sedetik kemudian badannya menjadi lesu saat melihat antrian untuk naik bis ke arah Cibubur cukup yang panjang di halte itu.
“Kak, rame banget …”
“Hehe … Emang. Bis ke Cibubur selalu rame. Yang penting lo hati-hati, ya, Cil. Jangan dorong-dorongan. Kalo nggak muat jangan dipaksa. Jaga barang dan jaga diri baik-baik.”
“Iya, Kak … Btw Kak, ini nanti aku turun di mana? Aku mau minta jemput Papa …”
“Turun di McD Jambore aja,” jawab Winwin singkat. “Sampe sini gue nggak usah temenin lo lagi, ya? Gue mau mandi terus siap-siap jemput lo.”
“Hah? Jemput?”
“Iya, nggak usah minta tolong Papa, nanti dia bingung, lo perginya sama Kesha tapi kok pulangnya nggak sama Kesha. Kalo ada gue 'kan nanti gue bisa ngeles dikit ke Papa lo.”
Cecilia masih berusaha memproses kata-kata yang diucapkan Winwin.
“Terus nanti sebelum pulang kita makan es krim dulu, oke? Biar nggak bete lagi,” sambung Winwin karena Cecilia tidak bersuara.
“Eh, iya … Oke, Kak.”
“Oke deh, kalo gitu gue matiin, ya, telfonnya. See you at McD, hati-hati …” pamit Winwin lalu ia segera memutus hubungan teleponnya dengan Cecilia.
Sesaat Cecilia mematung sampai akhirnya ia kembali tersadar dari lamunannya berkat suara petugas halte Transjakarta yang mengumumkan kedatangan bis menuju Cibubur. Cecilia pun segera mengantri untuk menaiki bis yang akan segera membawanya kembali ke daerah rumahnya. Bis yang akan membawanya bertemu dengan Winwin.