Crestfallen
Winwin melangkah pelan memasuki unit apartemennya saat ia membuka pintu dan mendapatkan seluruh lampu telah diredupkan, kecuali lampu mini bar di dapur yang sengaja selalu menyala agar tidak terlalu gelap.
Dengan seluruh lampu redup, menjadi tanda kalau penghuni lain di unit itu sudah berada di kamar masing-masing dan beristirahat. Tidak mau membuat kegaduhan, Winwin pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Tidak ada Kalina di sana, yang berarti istrinya itu masih berada di kamar sang buah hati, kebiasaan yang selalu dilakukan wanita itu setiap malam.
Selesai berganti pakaian, Winwin memilih untuk menonton acara ragam di televisi kamarnya sembari beristirahat setelah melalui hari Jumat yang panjang dan cukup melelahkan dengan tambahan makan malam bersama rekan kerjanya.
“Win, mana makan malam aku?”
Selang tiga puluh menit, Kalina muncul di balik pintu dengan mata setengah sembab karena terbangun dari tidurnya.
“Kal, aku nggak jadi beliin kamu makanan.”
Kalina hanya diam mendengar jawaban Winwin, lalu segera berlalu dari pintu kamar mereka dan Winwin segera menyusulinya.
“Kamu janji sama aku lho, Win,” ucap Kalina yang sudah duduk di kursi meja makan.
“Iya, aku tau. Aku minta maaf. Alasan aku nggak beliin makanan jujur aku bingung. Aku takut beli makanan tapi gak sesuai selera kamu.”
Kalina mendengus sarkas. “Emang aku se-nggak tahu diri itu?”
“Nope, bukan gitu—” Winwin memotong ucapannya sendiri. “Aku masakkin mie goreng, ya?”
Kalina tidak menjawab, tapi Winwin menganggapnya sebagai persetujuan dari wanita itu.
Tidak butuh waktu lama untuk memasak mie goreng—makanan andalan Winwin, sekarang lelaki itu sudah menyajikan hidangan buatannya bersama dengan peralatan makannya di atas meja.
“Dimakan, Kal.”
Kalina melirik sesaat ke arah mie goreng buatan Winwin sebelum menyantap suapan pertamanya.
“Kamu ikhlas nggak sih, masaknya?” Kalina sedikit membanting kasar sendok garpunya. “Pesenin aku makanan lain deh. Aku nggak bisa nelen mie buatan kamu.”
Hati Winwin mencelos, baru kali pertama ia melihat Kalina semarah ini. Kalina pun sedikit takjub dengan ucapannya barusan, tapi semua sudah terlanjur. Ia tidak bisa mengontrol rasa kecewanya terhadap Winwin.
“Aku ikhlas, Kal. Tapi kalo kamu nggak mood makan mie goreng, yaudah nggak papa. Kamu mau makan apa?” Winwin bertanya lembut. Akan percuma kalau ia terus-terusan menanggapi emosi Kalina, karena hanya akan semakin memperkeruh suasana malam itu.
“Ayam penyet, mau?”
Kalina menggeleng.
“Soto ayam? Mumpung soto ayam langganan kamu masih buka nih, Yang.” Winwin melirik ke arah jam dinding dengan jarum pendek menunjuk di antara angka sembilan sepuluh.
“Aku mau mie rebus.”
Winwin tersenyum samar kemudian ia segera memenuhi permintaan Kalina dengan kembali ke dapur.
Sama dengan proses dan durasi memasak mie goreng, mie rebus itu sudah tersaji di atas meja makan dalam hitungan menit. Kalina kembali melirik ke arah mangkuk sebelum mulai menyantapnya.
“Kamu kalo nggak ikhlas nggak usah masak, deh.” Lagi-lagi Kalina mengutarakan kalimat yang sama setelah menyuap suapan pertama, mengundang kerutan di kening Winwin.
“Kal, kamu apa-apaan sih? Kamu sengaja ngerjain aku, ya? Oke, aku tau aku salah dengan beralasan seperti tadi. Tapi, dengan nyuruh aku masak begini sampe dua kali—dan ujung-ujungnya dibuang karena kamu nggak makan—are you trying to tempt my patience?”
“Kamu marah?” Kalina membalas kalimat Winwin dengan pertanyaan bernada dingin. “Baru juga disuruh masak indomie dua kali, kamu marah? Aku—” Kalina memberi jeda beberapa detik sebelum lanjut berbicara. “Aku nggak pernah protes or marah, lho, saat kamu minta aku buat masakin nasi goreng jam 4 subuh karena kamu kelaperan, atau saat kamu telat bilang ke aku kalau kamu nggak bisa dinner di rumah padahal aku udah masak banyak. Am I ever show my protest towards you?”
“No one asked you to keep you anger by yourself, Kalina.”
Kalina terkesiap. Pikirnya Winwin akan diam dan meminta maaf seperti yang sudah sering terjadi. Lelaki itu cenderung mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu kalau-kalau mereka sedang adu argumen seperti saat ini. Tapi kali ini tidak. Winwin tidak berlaku seperti biasanya.
“We all are human, and we have a right to expressed out our feelings. Nggak pernah aku suruh kamu buat simpen rasa kesel kamu sendiri, malah aku selalu minta kamu buat keluarin semua uneg-uneg kamu. Terakhir, pas kamu ngambek karena aku seharian main PS.”
“Terserah lah, intinya aku tau kalo kamu nggak ikhlas masak malam ini buat kamu.”
Winwin menghela nafas sembari melepas apron yang sedari tadi dikenakannya.
“Aku juga terserah, Kal,” balasnya lalu ia menuju ruang tengah dan duduk di sofa di sana.
Kalina menatap Winwin dengan sorot mata protes. “Terserah?! Kenapa jadi kamu yang terserah?”
Winwin menoleh, mendapati Kalina yang masih memandanginya tajam. “Iya, terserah. Saat kamu tanya aku masak ikhlas atau engga, aku jawab ikhlas, tapi kemudian kamu balik lagi nuduh aku nggak ikhlas bahkan menganggap aku masak asal-asalan karena aku marah sama kamu.
“Sekarang terserah kamu, mau anggep aku ikhlas atau nggak, marah atau nggak. Aku udah jujur ke kamu, jadi balik lagi kamu mau percaya aku atau nggak.”
Kali ini keduanya terdiam, dengan waktu yang semakin larut malam keduanya semakin kehabisan tenaga untuk berdebat. Masing-masing sadar akan kesalahannya; Winwin tahu tidak seharusnya ia berjanji kalau akhirnya ia tidak bisa menepatinya.
Kalina juga tahu kalau tidak seharusnya ia memperkarakan masakan Winwin; lelaki itu sudah mencoba untuk menebus kesalahannya dan seharusnya dengan mudah ia bisa memaafkannya. Namun entah mengapa malam ini rasa memaafkan itu seperti sulit keluar dari diri Kalina.
“Jadi mau dimakan atau nggak, Kal?” tanya Winwin setelah sekian lama mereka hanya berdiam diri.
Kalina beranjak dari meja makan dan kembali ke kamar sang buah hati, menjadi sebuah jawaban yang cukup jelas untuk Winwin.