Masih Sama
“Gue udah di Kafe Betawi, ya, Nat.”
Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Johnny saat Natasha masih terjebak di kemacetan sore hari SCBD. Walaupun kantornya masih dalam satu lingkungan yang sama dengan tempat mereka janjian, tetap saja Natasha harus membawa mobilnya dan karena itu ia terjebak macet akibat lalin padat di jam pulang kantor.
“Sebentar ya, macet.”
Natasha membalas cepat pesan Johnny agar lelaki itu tidak khawatir.
Perempuan itu refleks mendengus pelan saat ia sadar kalau ia tidak mau mantan yang telah putus dengannya dua tahun silam itu khawatir. Bukannya ia belum bisa move on, tapi dasarnya saja Natasha selalu memberi kabar kepada siapapun agar lawan bicara atau bertemunya tidak khawatir.
Dan saat ini Natasha sedikit membenci sifatnya yang satu itu.
Johnny kembali membalas pesan Natasha dengan satu kata ‘Oke’ tapi Natasha tidak lagi membalas pesan itu. Ia memilih untuk fokus pada jalanan di depan matanya yang masih saja padat.
Akhirnya setelah kurang lebih dua puluh menit, Natasha tiba di Kafe Betawi. Ia segera menghampiri Johnny yang terlihat sudah memesan segelas es teh manis.
“Hai, Nat. Pesen dulu aja,” ucapnya sambil mengangkat tangan, memberi tanda pada pramusaji untuk menghampiri meja mereka.
“Soto daging Betawi yang campur satu, minumnya teh tawar panas aja,” kata Natasha kepada pramusaji yang berdiri di sisi meja mereka. “Lo udah pesen makanan?” Kali ini pertanyaan ia lontarkan untuk Johnny. Lelaki itu hanya mengangguk, membuat pramusaji itu segera berpamitan dari meja mereka.
“Apa kabar, Nat?” tanya Johnny mengawali percakapan mereka malam itu.
Natasha mengedikkan bahunya. “Baik, as you can see. Lo sendiri?”
“Baik juga.”
Lalu keduanya diam sejenak. Natasha menyeruput pelan teh panas pesanannya yang tiba beberapa saat lalu.
“Life's update, dong, Nat,” ucap Johnny lagi.
“Lo lah, kan elo yang ngajak ketemuan.” Natasha membalikkan kalimat Johnny. Lelaki itu hanya menyunggingkan senyuman tipis.
“Gue putus dari Marsha. Enam bulan lalu.”
Natasha hanya menatap Johnny sambil sesekali meniup-niup teh panasnya.
“Alasan klise, sih, pasti lo bakal sebel dengernya,” sambung Johnny kemudian disertai tawa pelannya yang dipaksakan.
“Emang putus kenapa?” tanya Natasha penasaran.
“Gue nggak suka, dia selalu ngerusuhin gue, even di jam kerja. Dua tahun gue digituin terus, lama-lama gue muak, Nat. Akhirnya gue meledak, marah ke dia. Bisa lo tebak, lah, apa yang selanjutnya terjadi.”
“Kenapa lo nggak ngomong ke dia, kalo lo nggak suka dirusuhin?”
Johnny tersenyum lagi. “Lo tau, kan, gue gimana?”
Natasha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih ingat betul karakter mantannya ini.
“Terus, lo mau gimana?” Natasha kembali bertanya.
“Mau balikkan juga nggak mungkin, dia udah punya cowok dari tiga bulan lalu.”
Berikutnya Natasha tidak lagi menggubris jawaban Johnny. Ia memilih untuk menyantap soto daging pesanannya yang sudah tiba di hadapannya sambil membicarakan hal yang lain. Terlalu malas baginya untuk ikut campur dalam hubungan seseorang, apalagi seseorang dari masa lalunya.
“Thanks ya, Nat, udah mau ketemuan sama gue malem ini,” kata Johnny setelah mereka berdua selesai menghabiskan makan malam mereka.
Natasha hanya mengangguk pelan membalas ungkapan terima kasih lelaki itu.
“Kalo kapan-kapan gue ajak lo buat ngobrol atau ketemuan kayak gini lagi, bisa kan?” Johnny menyambung kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.
“Bisa-bisa aja, selama gue free.”
“Kalo gitu jangan terlalu sibuk, cuz I think I need you more.”
Entah ucapan Johnny hanya sekedar canda semata atau tidak, Natasha refleks melirik ke arah Johnny dengan tatapan tidak menyenangkan, Lalu setelah itu ia memutuskan untuk segera pergi dari situ dengan bangkit dari tempat duduknya.
“Mau balik, Nat?” tanya Johnny sambil ikut berdiri.
“Iya. Nanti nyokap nyariin gue, gue lupa ngabarin dia.”
“Oh iya, tante Meyriska apa kabar? Baik, kan?”
Lagi-lagi Natasha hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Johnny. “Jo, gue duluan, ya,” pamitnya kemudian.
“Bareng aja yuk, Nat, gue anterin ke mobil.”
“Nggak usah, gue duluan. Bye.”
Johnny terlihat kecewa tapi malam itu ia tidak mau terlalu memaksakan dirinya pada Natasha. Ia hanya membalas singkat kalimat Natasha, “oke, hati-hati, Nat.”
Sementara Natasha mempercepat langkahnya kembali menuju mobilnya yang terparkir di basement. Otaknya tengah memprotes hatinya, seharusnya pertemuan malam ini tidak terjadi karena ia yakin kalau lelaki itu belum berubah sepenuhnya.