Kak Aurora

Kalau biasanya di hari Minggu gue akan pergi sama mami atau Randi, atau Bang Win dan Bang Traven, Minggu hari ini gue memilih untuk di rumah aja. Bukan karena males pergi atau nggak dapet izin dari mami, tapi karena kak Aurora lagi ada di rumah gue.

Kak Aurora adalah tetangga sekaligus kakak kelas gue yang lulus tahun ini. Mami sangat mengagumi kak Aurora. Di mata mami, kak Aurora adalah seorang perempuan pintar dan mandiri. Mami nggak salah, sih, karena itu kenyataannya.

Kak Aurora ngontrak di rumah sebelah rumah gue—which is rumah gue satu lagi yang memang keluarga gue sewakan untuk siapapun—sama kakak laki-lakinya, bang Aldian. Mereka berdua berasal dari Jogjakarta; bang Aldi dateng ke Jakarta karena penugasan dari kantornya, sementara kak Aurora ikut merantau demi bersekolah di Altaire, salah satu sekolah swasta-internasional terbaik se-Jabodetabek.

Prestasi kak Aurora di sekolah tergolong cemerlang, namanya masuk list lulusan terbaik SMA Altaire 2022. Makanya nggak heran mami seneng banget sama kak Aurora dan nggak jarang minta tolong kak Aurora untuk bantuin gue belajar atau sekedar ngingetin gue untuk belajar. Gue sendiri nggak keberatan, malah gue seneng karena gue jadi selalu punya alasan untuk ketemu atau sekedar ngobrol via chat dengan kak Aurora.

“Yer … Yeremia!”

Suara mami dengan logat Surabaya super kentalnya memaksa gue menekan tombol pause di stick PS gue.

“Ada apa, Mi?” tanya gue sopan sambil nurunin tangga rumah gue yang berbentuk spiral. Di ruang tengah ada kak Aurora, mami dan lilin-lilin aromaterapi hasil belanjaan mami yang dia beli kemarin sore.

“Tumben dipanggil sopan,” sindir mami pelan—dasar ibu-ibu, “iki, Aurora ditemenin ke Hero dulu bentar, Mami sama Aurora mau masak spagetthi. Kamu ojo mangan tok ntar, bantu belanja juga.”

Biasanya kalo disuruh mami, gue akan mengeluarkan seribu satu alasan biar nggak jadi disuruh—dan berakhir mami minta tolong mbak Jul, ART di rumah, dan pak Yatmo, supir mami, untuk belanja—tapi khusus hari ini gue akan jadi anak baik buat mami. Lebih tepatnya buat kak Aurora.

“Boleh. Ayo, Kak.” Gue ambil kunci mobil yang disimpen di laci meja TV ruang tengah, lalu pamitan sama mami—yang lagi pasang tampang heran karena anak satu-satunya mendadak jadi penurut—sebelum pergi ke garasi buat manasin mobil.

Nggak lama habis gue nyalain mobil, kak Aurora masuk dan duduk di sebelah gue, dan setelah itu hening. Kami berdua sama-sama diam, cuma ada suara radio yang memang selalu gue pasang di mobil buat jadi temen jalan ke sekolah, mengisi kekosongan di mobil gue.

“Kalo nggak mau masak-masak sama mami, kakak masih punya kesempatan buat kabur sekarang.” Gue nyeletuk biar suasananya nggak semakin awkward. Gue udah tetanggaan dengan kak Aurora selama empat tahun, tapi entah kenapa rasanya selalu canggung setiap kami cuma berduaan aja kayak saat ini.

“Justru aku yang nawarin diri ke tante Linda buat masak-masak, Yer.” Kak Aurora ngebales celetukan gue dengan senyum lucunya. “Nggak enak udah dikasih lilin aromaterapi, enak-enak pula wanginya.”

“Sama mami, mah, nggak usah nggak enakan, Kak.”

Kak Aurora balas celetukan gue yang baru dengan sentilan pelan di kepala gue.

“Kamu, nih, ya …” Kak Aurora udah tau kalo gue suka agak tengil, apalagi kalau berhubungan sama mami. Makanya di beberapa kesempatan kadang dia cuma bisa pasrah—kayak barusan. “Udah, yuk, jalan.”

Kenapa cewek kalo belanja harus bolak-balik muterin semua koridor?

Sepengetahuan gue, semua keperluan untuk masak spagetthi udah dimasukkin kak Aurora ke dalam troli, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kaki dia melangkah ke kasir? Kak Aurora sekarang malah lagi asyik ngelihatin rak display teh dengan berbagai merek, mulai dari merek lokal sampai brand import.

“Lah, Rora?!”

Gue yang lagi ngeliatin chiki-chikian di koridor snack buru-buru nyamperin kak Aurora di koridor sebelah karena gue cukup kenal suara cempreng barusan. Bener aja, ternyata bang Traven. Dia lagi.

“Berdua Yere?” tanya bang Traven setelah melihat gue.

Gue langsung inisiatif ambil alih troli dari kak Aurora sambil jawab pertanyaan bang Traven. “Iya. Lo sama siapa, Bang? Ngapain?”

“Sendiri. Beli makanan Leon.” Bang Traven jawab pertanyaan gue singkat karena habis itu dia balik ajak kak Aurora ngomong lagi. “Ra, lo sibuk nggak? Gue butuh bantuan lo, nih.”

Buru-buru gue lihat kak Aurora dan sebelum dia sempat jawab pertanyaan bang Traven, gue buka suara. “Kak Aurora sibuk, mau masak-masak sama gue dan mami di rumah.”

“Yah …”

“Perlu bantuan apa, Ven?”

Percuma aja buru-buru potong percakapan mereka, manusia setengah dewi di samping gue ini akan tetap bertanya karena dia baik dan pedulinya suka kelewatan. Apalagi kak Aurora dan bang Traven memang lumayan akrab sejak SMA.

“Mau minta saran lo, nih, buat desain poster acara kampus gue.”

Kak Aurora manggut-manggut sambil ber-‘oh’ ria. “Kirim aja ke Whatsapp gue, nanti gue bantuin lo.”

Bang Traven senyum puas dan gue cuma bisa pasang wajah datar. Mau dilarang juga nggak mungkin, kan, emang gue siapa? Dan sebelum pertemuan nggak sengaja ini melebar jadi sesi ngobrol, gue pamitan untuk bayar belanjaan di kasir.

“Eh, bareng aja, gue juga udahan nih, belanjanya.”

Bang Traven, can you leave us alone, please?