Sampai Di Sini
Sesuai titah mami, hari Minggu ini gue pergi ke pameran lukisan dengan menebeng Bang Traven. Gue nggak sendirian, Kak Aurora dan Bang Aldi juga nebeng supaya lebih hemat ongkos. Bang Traven sebagai pemilik kendaraan juga nggak protes, malah dia senang karena mobilnya jadi rame.
Gue sudah tau akan seperti apa posisi duduk kami di mobil, langsung membuka pintu belakang begitu mobil Bang Traven sampai di depan rumah.
“Yer, kok di belakang? Depan, lah, temenin gue.”
“Bukannya Kak Aur yang di depan?” tanya gue pura-pura polos bersamaan dengan Kak Aurora dan Bang Aldi yang naik dari pintu belakang lainnya.
“Wong nggak bisa baca Gmaps ngapain duduk depan, Yer.” Bang Aldi menjawab pertanyaan gue dan disetujui Bang Traven dengan sebuah anggukan. Kak Aurora cuma tersenyum meringis mengakui fakta yang diucapkan kakaknya.
“Yo wis.” Gue menutup pintu belakang dan beralih duduk di depan sebelum Bang Traven melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, obrolan kami berempat bermacam-macam. Kami membahas Cibubur yang selalu macet, kapanpun jam berapapun. Karena Bang Aldi selalu berpergian dengan kendaraan umum, dia hanya bisa pasrah kalau harus terjebak macet. Kak Aurora sama seperti Bang Aldi, tapi untungnya jam pulang Kak Aurora adalah jam-jam aman di mana kemacetan daerah rumah kami belum terlalu parah. Dan juga, Kak Aurora lumayan sering pulang bareng Bang Traven yang selalu mengendarai mobil sehingga dia tidak terlalu pusing dengan masalah macet.
“Yer, besok Try Out, ya?” Pertanyaan Kak Aurora otomatis mengganti topik pembicaraan kami. Gue hanya mengangguk mengiyakan.
“Udah belajar belom?” Gantian Bang Traven yang bertanya.
“Udah, dari kemarin-kemarin tiap hari dicerewetin mami, itu apa namanya kalo bukan buat belajar, Bang?” Jawaban gue membuat ketiga kakak-kakak ini tertawa pelan. Tapi memang itu faktanya. Mami selalu meminta gue untuk belajar setiap hari supaya gue tidak hanya sekedar hafal dengan materi yang gue pelajari, tapi juga mengerti materi-materi itu.
Dan omongan mami sudah terbukti benar. Setiap menjelang ulangan, gue hanya perlu membaca ulang atau berlatih soal materi yang akan diujikan, untuk me-refresh kembali otak gue. Hasil ulangannya pun sudah pasti bagus, bahkan tidak jarang sempurna.
“Kesayangannya Tante Linda, nih.” Bang Traven mengacak-acak gemas rambut gue dan sebisa mungkin gue menghindari tangannya. Bang Traven senang banget memperlakukan gue seperti anak kecil mentang-mentang gue selalu jadi si bontot di antara pertemanan gue dengan dia dan Bang Win maupun di antara yang hadir di mobil siang ini.
“Iya, Tante Linda, tuh, bangga banget sama kamu, lho, Yer. Tapi kalo Abang jadi Tante Linda juga pasti Abang bakal bangga sama kamu. Jarang ada anak seusia kamu yang nurut banget sama orang tuanya, apalagi cowok.”
“Tuh, kayak si Traven.” Kak Aurora menimpali kalimat Bang Aldi, membuat gue terkekeh pelan sementara Bang Traven mengakuinya dengan senyum masam.
Berkat obrolan ngalor ngidul, perjalanan yang kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam tidak terasa dan sekarang kami tiba di klub lukis sekaligus studio pameran yang terletak di kawasan Kemang. Di pintu depan, gue dan Bang Aldi diminta menunjukkan undangan kami sebelum masuk ke dalam. Gue menunjukkan undangan yang dikasih Kak Aurora di mobil, lalu masuk ke dalam studio, mengekori Kak Aurora dan Bang Traven yang sudah masuk terlebih dahulu.
Ukuran studio itu tidak terlalu besar. Berbagai lukisan hasil karya anggota klub dengan bermacam aliran dipamerkan di sana. Lukisan-lukisan itu diatur berdampingan di dinding dengan jarak tertentu, memudahkan para tamu yang datang untuk melihatnya satu per satu.
Sejak tiba, Kak Aurora dan Bang Traven sudah sibuk bercengkrama dengan anggota klub yang lain, atau dengan tamu yang memuji karya lukis mereka. Sementara gue dan Bang Aldi berkeliling, melihat-lihat lukisan yang dipamerkan di sana sambil mencari lukisan hasil karya Kak Aurora dan Bang Traven.
Sampai akhirnya gue tiba di lukisan milik Kak Aurora. Gue diam mematung, memandangi setiap detil yang digurat Kak Aurora di kanvasnya. Gue memang tidak terlalu mengerti dengan dunia lukis, tapi gue sepertinya mengerti apa pesan yang ingin disampaikan Kak Aurora lewat lukisannya. Cukup lama gue diam di sana, menatap lukisan yang diberi judul ‘Madre’ oleh sang penciptanya.
Di lukisan itu terdapat seorang ibu yang tengah menggendong anaknya. Sang anak terlihat sedih, air mata digambar menggenang di pelupuk matanya. Kesedihan sang anak menggambarkan perasaan Kak Aurora yang baru gue ketahui beberapa waktu silam, bagaimana hubungannya dengan ibunya. Sementara sang ibu digambar faceless— tanpa fitur mata, hidung dan mulut di wajahnya—mengekspresikan perasaan Kak Aurora yang tidak ingin melukis sosok ibunya dengan jelas. Lewat lukisannya, Kak Aurora mengakui kehadiran ibunya, hanya saja ia tidak mau menggambarkannya secara detil. Seperti ia tidak ingin orang-orang tahu seperti apa sosok yang telah melahirkannya ke dunia.
“Cantik, ya.”
Suara Bang Traven membuyarkan konsentrasi gue. Gue menoleh, mendapatkan dia sedang memandangi Kak Aurora yang berdiri beberapa meter dari tempat kami. Gue melirik sekilas, binar mata Bang Traven nggak bisa dibohongin lagi; dia emang naksir sama Kak Aurora. Refleks kaki gue mundur selangkah, nggak sengaja menginjak kaki Bang Aldi yang entah sejak kapan berdiri di belakang gue.
“Yer, kenapa?” tanya Bang Aldi sedikit khawatir. Nggak tau mungkin wajah gue memerah atau kerutan di dahi gue bertambah, yang pasti wajah gue terlihat nggak baik-baik saja sampai Bang Aldi bertanya seperti barusan.
“Yer, kenapa?” Bang Aldi mengulang pertanyaannya.
“Toilet di mana, Bang?”
Setelah dapat jawaban dari Bang Aldi—dia menunjuk arah toilet dengan telunjuknya—gue segera pergi ke sana, nggak peduli dengan Kak Aurora yang manggil-manggil gue karena gue terpaksa berpapasan dengannya.
Hari ini jadi hari di mana gue sadar kalau gue dan Kak Aurora emang nggak akan pernah bisa sama-sama. Gue nggak mau hubungan gue dengan Bang Traven jadi merenggang hanya karena perkara perempuan. Gue ingat nasihat mami, gue harus menjaga hubungan yang baik dengan Bang Traven dan Bang Win—terlepas dari hubungan dekat ketiga ayah kami—mereka sudah menganggap gue seperti adik sendiri. Mereka yang selalu ada di saat gue butuh bantuan, mereka yang selalu jaga gue di sekolah sejak TK sampai sekarang mereka udah kuliah pun, mereka nggak pernah luput untuk menanyakan kabar gue di sekolah, memastikan kalau gue akan selalu baik-baik saja.
Bang Traven dan Bang Win terlalu baik untuk disia-siakan hanya karena seorang perempuan. Sama seperti Kak Aurora, gue nggak mau mengorbankan hubungan kakak adik yang sudah terjalin selama empat tahun lebih hanya karena perasaan konyol yang gue rasakan saat ini.