Tentang Dia

Bolak-balik gue mematut diri di depan cermin full body yang gue taruh di pojok ruangan bersebelahan dengan jendela kamar, memastikan kalau penampilan gue Minggu siang ini nggak akan terlihat malu-maluin di depan Kak Aurora. Setelah hampir satu jam gue habiskan hanya untuk memilih outfit hari ini—dan berakhir dengan pilihan ter-aman gue, kaos dan jaket—gue keluar kamar.

“Mami mau ke mana?” tanya gue pas lihat mami yang udah stand by rapi di ruang tengah.

Yo pergi sama kamu, mau ke mana lagi?”

“Hah?!” Kaki gue berhenti di anak tangga paling bawah. “Mami ikut?”

Mami melihat ke arah gue, dahinya mengerut bingung. “Masa Mami nggak ikut? Mami harus tau jurusan dan universitas pilihan kamu, biar kalo papi nanya lagi, Mami bisa jawab.”

Kalau tau mami punya rencana untuk ikut, harusnya Jumat malam kemarin gue bohong aja.

“Kamu panggil Aurora, gih, biar Mami minta Pak Yatmo ngeluarin mobil. Kita berangkat sekarang.”

*

Pupus sudah semua imajinasi gue tentang hari ini; keinginan gue memasang lagu-lagu Tom Misch kesukaan Kak Aurora selama kami dalam perjalanan, mengajak dia makan sate taichan di Senayan dan terakhir, jajan ice matcha latte kesukaannya di Starbucks rest area sebelum balik ke rumah. Kenyataannya sekarang gue duduk di sebelah Pak Yatmo ditemani siaran radio yang dipasang random dengan volume rendah, sementara mami dan Kak Aurora di kursi belakang asyik ngobrol.

Kebanyakan mami yang bercerita dan Kak Aurora jadi pendengar yang baik. Sesekali aja Kak Aurora menanggapi dengan sepatah dua patah kata atau tawa pelannya.

“Nanti, deh, Ra, kalo Tante pergi ke Meruyung lagi, Tante ajak kamu. Di sana tanemannya apik pol, harga juga oke punya.”

Selain suka ngobrol ngalor ngidul, mami dan Kak Aurora juga suka pergi berduaan—bertiga, deh, sama Pak Yatmo—karena mereka punya hobi yang sama, yaitu mengoleksi tanaman hias. Mulai dari yang namanya aneh bin ajaib—kayak ‘Janda Bolong’—sampai yang namanya bagus seperti ‘Lady Valentine’, semuanya mereka punya. Bahkan nggak jarang juga, mami dan Kak Aurora bercocok tanam di halaman belakang rumah gue yang disulap mami awal tahun ini jadi kebun pribadi lengkap dengan green house-nya.

“Kamu, tuh, pacaran sama anaknya Pak Wibisana, yo, Ra?”

Mami membuka topik baru. Gue langsung pasang telinga, siap mendengar jawaban kak Aurora.

“Traven, Tan?” Gue lihat mami mengangguk pelan. “Ah, enggak, kok, Tan … Kebetulan kami kuliah satu jurusan, terus satu klub lukis juga, makanya jadi deket.”

Jawaban yang sudah terlalu sering gue dengar, tapi gue selalu merasa jawaban itu nggak sepenuhnya benar. Rasanya nggak mungkin, dengan kedekatan Kak Aurora dan bang Traven yang se-lengket itu, mereka cuma menganggap satu sama lain sebagai sahabat.

“Kalau kamu liat atau tau Yeremia ngegebet cewek, bilang ke Tante, ya, Ra.” Gue nggak dengar mami dan kak Aurora membahas apa lagi, tapi permintaan mami yang setengah menyindir gue, membuat gue berhenti melamun.

“Tapi masa sih, Kak, kakak sama bang Traven bener-bener cuma pure temenan?” Gue mengembalikan obrolan ke topik sebelumnya. Sengaja, siapa tau jawaban kak Aurora bisa menghilangkan rasa penasaran gue.

“Iya, padahal cocok juga, lho, kalo diliat-liat …”

Bukan jawaban Kak Aurora yang gue dengar, malah celetukan mami yang bikin Kak Aurora batal menjawab pertanyaan gue—dia cuma tersenyum simpul.

Gue jadi semakin yakin, Kak Aurora dan Bang Traven nggak cuma sekedar sahabatan. Dan gue nggak suka dengan fakta ini.

*

Edu Fair yang diadakan setiap tahun di JCC ini memang bagus untuk siswa-siswi kelas 3 SMA, terutama untuk mereka yang masih belum tahu mau ambil jurusan apa atau kuliah di mana, karena setiap universitas yang ikut acara ini tidak akan segan menjelaskan secara rinci keunggulan kampus mereka dan juga berbagai jenis jurusan yang mereka miliki.

Seperti salah satu universitas swasta yang sedang gue kunjungi saat ini, sedari tadi admin yang bertugas menjaga booth tidak berhenti membujuk rayu mami untuk mendaftarkan gue di sana, dengan segala penawaran fasilitas yang menggiurkan.

By the way, Bu, anaknya cantik dan ganteng, deh.”

Gue, mami dan Kak Aurora saling melirik satu sama lain sebelum mami membalas pujian yang dilontarkan admin itu.

“Makasih, ya … Mirip saya, kan, ya, Mbak?”

Sedetik kemudian mami dan mbak-mbak admin itu kompak tertawa pelan, sementara gue melirik sekilas ke arah Kak Aurora. Dia tersenyum tipis, tapi seperti ada sesuatu yang disembunyiin di balik senyumnya itu. Matanya kelihatan berair, tapi buru-buru dia bersihkan dengan tisu yang dibawa di dalam tasnya.

Hampir empat tahun gue mengenal Kak Aurora. Selama itu juga gue diam-diam suka sama dia, tapi ternyata gue masih belum tahu banyak tentang dia.