III.
“Lo kenapa, Tim? Ada pasien bermasalah, kah?”
Pertanyaan itu dilontarkan lelaki yang tengah duduk di balik kemudi di sisi kanan Timothy.
Yang ditanyai hanya menggeleng pelan. “Nggak papa.”
“Abisan lo diem aja daritadi,” timpal lelaki itu lagi.
Kali ini Timothy berusaha untuk tersenyum. “Beneran gue nggak papa. Lo nih, tumben banget ngajak makan keluar. Ada apa sih?” Timothy mengulang topik pembicaraan yang sebelumnya sempat ia bahas via pesan teks.
Lelaki berambut gelap itu tersenyum, menampilkan lesung pipi yang menjadi daya pikatnya tersendiri.
“Ada deh, nanti lo juga tau.”
Timothy tidak membalas lagi kalimat sahabat yang seprofesi dengan dirinya sebagai dokter spesialis. Ia hanya melirik ke arah lelaki itu sekilas, memperhatikan gesturnya yang terlihat bahagia seperti sedang jatuh cinta.
*
Rebecca berjalan cepat menaiki tangga stasiun MRT Bundaran HI. Ia sedikit terengah, tapi ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak menyetir mobilnya sendiri karena terbukti, siang itu jalanan protokol ibukota cukup padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Begitu tiba di dalam mal, Rebecca melipir sebentar ke toilet untuk memastikan kalau dirinya terlihat layak untuk bertemu banyak orang, terutama lelaki yang akan ia temui sebentar lagi.
‘Becca, aku udah di Sushi Tei’
Sebuah pesan singkat masuk untuknya dan Rebecca membalasnya dengan cepat.
‘Oke, aku ke sana’
Sesuai pesan yang ia kirim, ia pun segera meninggalkan toilet dan bergegas menuju Sushi Tei.
*
“Lo bukannya nggak suka sushi, ya, Ron?” tanya Timothy setelah ia duduk di dalam restoran yang menjual makanan khas Jepang itu.
“Gue nggak suka, tapi orang yang mau gue kenalin ke lo suka banget sama sushi.”
Timothy melirik tajam ke arah sahabatnya, Aaron.
“Pasti cewek.”
Tebakan Timothy dijawab dengan tawa rendah Aaron.
“Kalo cowok ngapain gue pamerin ke lo?”
“Dih, dasar hobi flexing. Ini cewek yang mana lagi? Siapa namanya? Anak mana?”
Kali ini pertanyaan bertubi-tubi dari Timothy dibalas decakan pelan Aaron.
“Bawel. Nanti kenalan aja langsung sama orangnya.” Kalimat Aaron menggantung karena sosok yang dibicarakan terlihat berjalan memasuki restoran.
“Tuh, orangnya,” sambung Aaron sumringah sambil melambaikan tangan agar perempuan yang tengah mencari dirinya mengetahui posisinya.
Timothy menoleh mengikuti arah tatapan Aaron dan dalam hitungan sepersekian detik sekujur tubuhnya terasa membeku.
Sosok yang sudah lama tak ia temui, tapi masih saja betah mondar-mandir di pikirannya.
“Hai, Be.” Aaron berdiri dan menyapa perempuan itu dengan sebuah pelukan singkat. “Oh iya, kenalin ini sahabat aku, Timothy.”
Rebecca terperangah untuk beberapa saat, tapi ia segera menjulurkan tangannya ke arah Timothy, lelaki yang masih menatapnya dengan tatapan takjubnya.
“Hai, Timothy. Gue Rebecca. Salam kenal.”
“And now, after all we've done in our past, we meet again as others' lovers. We are back with title in our first met; strangers.”
E N D