Gagal

Walaupun harus nurut mami diantar pergi dengan Pak Yatmo dan harus membawa serta sepupu-sepupu Randika—yang ternyata anaknya seru-seru—seenggaknya gue bisa meloloskan diri dari ajakan jalan-jalan Kak Aurora dan Bang Traven.

Dan karena gue tau kebiasaan mereka berdua mirip dengan mami—yang suka pergi ke mal di tengah kota Jakarta itu—makanya kali ini gue memilih mal Central Park buat hangout bareng Randika dan dua sepupunya, Cakra dan Nirmala.

“Mal-nya uapik tenan yo, Cak,” puji Nirmala kagum setelah masuk ke dalam mal dan berbaur dengan keramaian pengunjung siang hari ini.

Cakra yang lagi menyimpan kembali airpods miliknya, menyahuti Nirmala. “Nir, lo kayak baru liat mal gede aja.”

Nirmala cuma nyengir, lalu gantian ia mengajak gue dan Randika berbicara. “Mas, mas, kita sekarang mau ke mana? Aku shopping boleh ta?”

Randika melirik ke arah gue, mengingat gue yang mengajak dia dan sepupu-sepupunya ke sini, secara nggak langsung dia meminta izin kepada gue sebagai si empunya acara hari ini.

“Boleh. Gue juga suka shopping, kok. Ya nggak, Ran?” tanya gue sambil merangkul leher Randika. Randika cuma bisa senyum masam karena pasrah, sementara Nirmala langsung heboh menggandeng lengan Cakra dan mengajaknya ke salah satu toko baju terbesar di mal itu.

Di dalam toko, Nirmala sibuk memilih baju dengan Cakra yang setia mengekori, sementara gue dan Randika hanya berkeliling melihat-lihat sembari mengobrol.

“Jadi Nirmala sama Cakra tuh, dua sepupu bungsu lo?” tanya gue memastikan, setelah mendengar penjelasan singkat Randika tentang keluarganya, keluarga Soerjadi.

Randika mengangguk. “Cakra sebenernya anaknya pakde gue, kakaknya bokap, tapi dia lahirnya di bawah gue dua tahun. Dia punya abang satu, namanya Kaivan. Lagi ngambil S2 di US. Kalo Nirmala emang anaknya adek bokap.”

Gantian gue mengangguk paham dengan penjelasan Randika. Randika dan sepupu-sepupunya tergolong akrab, beda sama gue dan satu-satunya sepupu gue, yang lebih mirip dua orang asing karena saking jarangnya kontak-kontakan dan juga ketemu. Jarak usia yang lumayan jauh—sepupu gue sembilan tahun di atas gue—juga bikin hubungan kami semakin awkward.

“Aku udah selesai shopping-nya.” Nirmala memamerkan hasil belanjaannya dalam dua kantong coklat berukuran besar. “Sekarang gantian Mas-mas mau ke mana?”

“Kalian ada mau liat toko lain?” tanya gue bergantian ke Randika dan Cakra, yang kemudian dijawab dengan gelengen kepala mereka berdua. “Ya udah, makan aja, yuk.”

***

“Yeremia?”

Untung aja gue nggak keselek Salmon Baked Rice yang jadi menu makan siang gue hari ini, saat melihat siapa orang yang memanggil nama gue.

“Lah, Kak Aurora? Ngapain di sini?” tanya gue bego. Iya bego, karena jawabannya udah pasti satu—

“Ya mau makan lah, Yer.”

Kan, apa nggak bego pertanyaan gue barusan?

“Nggak bales WA gue, nggak taunya pergi ke sini.” Bang Traven kemudian ikut berkomentar dan tanpa basa-basi dia langsung duduk di kursi yang masih kosong di meja gue. Kebetulan banget siang ini gue dapet meja dengan enam kursi karena yang empat kursi semuanya terisi penuh.

“Kita gabung aja sama mereka, yuk, Ra?”

Semua pasang mata—termasuk Kak Aurora—menatap ke arah gue, menunggu jawaban dari gue. Lagi, karena semua menganggap gue-lah yang punya acara Sabtu siang ini.

“Ya udah, gabung aja.”

Randika sebagai satu-satunya orang yang tahu permasalahan sebenarnya, melirik ke arah gue dengan tatapan khawatir. Gue cuma bisa angkat alis, mata gue mengisyaratkan ‘mau gimana lagi?’

Dalam waktu kurang dari setengah jam, Kak Aurora sudah langsung akrab dengan Nirmala. Sementara Bang Traven yang memang sudah kenal Randika terlihat semakin akrab, ditambah Cakra yang dasarnya gampang berbaur dengan siapa saja membuat obrolan mereka nyambung satu sama lain.

Gue? Sesekali menanggapi obrolan cowok-cowok, sambil diam-diam memperhatikan Kak Aurora yang duduk di ujung meja, agak jauh dari kursi gue. Nggak tau kenapa, seneng aja liat Kak Aurora apalagi kalau dia lagi senyum dan tertawa. Gigi-gigi besarnya mempercantik fitur wajahnya yang emang udah cantik dari sananya.

Bucin, ya? Hahaha … Tapi begitulah gue mengagumi Kak Aurora, dan tanpa gue sadarin rasa kagum gue perlahan berubah jadi rasa suka, yang kadang bisa bikin gue bete sendiri kalau Kak Aurora terlalu akrab dengan Bang Traven—kayak sekarang.

Nggak tau apa topik pembicaraan mereka sebelumnya karena sekarang Bang Traven lagi ngacak-ngacak pelan rambut Kak Aurora sambil ketawa-tawa dengan yang lainnya.

“Mau udahan aja, Yer? Biar kita misah,” bisik Randika yang masih khawatir dengan gue. “Soalnya lo keliatan kayak sad boy banget sekarang.”

Sialan. Sempet-sempetnya si Randika ngecengin gue.

“Ehm,” Gue berdeham cukup keras sambil bangun dari tempat duduk supaya semua memperhatikan gue. “Gue mau balik, Bang,” pamit gue kemudian.

“Yaudah kalo gitu bareng aja, gue juga udahan. Lo parkir di mana?” Bang Traven ikut-ikutan bangun dari tempat duduknya.

“Ngg … Gue dianter Pak Yatmo.”

Jujur, agak sebel harus mengakui kalau hari ini gue dianter Pak Yatmo karena sekarang gue jadi kedengeran nggak keren di depan Kak Aurora. Ditambah Kak Aurora di ujung sana masih tersenyum senang tanpa gue tau apa maksud senyumannya itu.

“Oh, ya udah gue sama Aurora duluan, deh.” Kemudian Bang Traven dan Kak Aurora segera bersiap untuk pamitan pulang. “Langsung balik ke rumah apa gimana?” tanyanya lagi.

“Main ke tempat Randi dulu.” Sorry Ran, pinjem nama lo dulu.

“Ya udah, kalo gitu ntar berkabar lagi, Yer. Bales WA gue, jangan read only.”

Gue hanya menanggapi kalimat Bang Traven dengan satu kata ‘he-eh’ dan setelahnya Bang Traven dan Kak Aurora berpamitan dengan kami satu persatu.

“Salam buat Tante Linda, ya, Yer,” ucap Kak Aurora begitu ia sampai di depan gue—sebagai orang terakhir yang diajak berpamitan. Dia menepuk pelan bahu gue lalu segera menyusul Bang Traven yang sudah terlebih dahulu keluar restoran.

Ayu pisan, yo, Cak. Kamu ndak naksir ta?” Nirmala menjadi orang yang pertama kali buka suara setelah kepergian Bang Traven dan Kak Aurora.

“Ya kali, Nir, semua yang cantik aku taksir,” jawab Cakra lalu matanya menatap gue dengan tatapan mencurigakan. “Lagian masa gue naksir gebetannya Mas Yeremia, sih?” lanjutnya jahil.

Sedetik kemudian, gue sadar siapa satu-satunya orang yang jadi ember bocor di sini.

“Randika Soerjadi!”

“Nggak sengaja kelepasan, Yer!”