Mami
“Yeremia si anak mami.”
Nggak jarang gue mendengar kalimat itu. Apakah gue membantah? Nggak juga, karena emang gue anak mami gue, kan?
Gue paham yang dimaksud 'anak mami' di sini adalah posisi gue sebagai anak laki-laki yang selalu nurutin apa kata maminya, nggak pernah bandel—padahal nggak juga, gue suka bikin mami darting dengan ulah gue—di saat kebanyakan anak laki-laki lain seusia gue lagi di fase bandel-bandelnya sebagai anak remaja.
Gue nurutin kata-kata mami karena awalnya menurut gue mami itu galak—mami kalo udah marah serem banget—tapi seiring berjalannya waktu gue semakin sadar kalau galak dan overprotective-nya mami itu, semua dilakukan demi kebaikan gue.
Gue pun menyadari, menjadi anak laki-laki tunggal yang didapatkan mami dan papi dengan susah payah—kata papi, butuh lima tahun dan berbagai macam program kehamilan sampai mami bisa hamil dan lahirin gue—membuat mami jadi super ekstra menjaga gue dari pergaulan yang nggak sehat dan membesarkan gue sebagai anak satu-satunya.
Papi berjuang cari uang, sementara mami mengusahakan segala cara agar gue menjadi anak pintar, mulai dari mendaftarkan gue di berbagai les sampai menyekolahkan gue di sekolah internasional ternama. Semua itu dilakukan demi gue, anak semata wayang mereka. Jadi, sudah sepantasnya, kan, gue membalas mereka dengan menjadi anak baik dan penurut?
“Jeng Linda!”
Suara salah satu istri rekan kerja papi menyapa kedatangan mami dan gue sore itu. Mami segera menghampiri satu meja bundar yang sudah dihuni tiga wanita sebayanya, sementara gue menunggu beberapa langkah di belakang.
“Aduh, ayu’ne … Sama siapa ke sininya, Jeng?” tanya salah satu di antara tiga wanita itu setelah mami selesai bercipika-cipiki ria dengan ketiganya.
“Iki sama cah lanangku,” Mami kemudian melihat ke arah gue, tangannya manggil-manggil gue untuk mendekat.
“Iki kenalin, Yeremia Pramudya.” Dengan bangga mami memperkenalkan gue dengan istri-istri rekan kerja papi. “Yer, iki Tante Maria istrinya Om Marcus, Tante Dita istrinya Om Rudy dan Tante Rosa istrinya Om Ricky.” Gantian mami memperkenalkan tiga temannya lengkap dengan nama suaminya yang lebih familiar di telinga gue.
“Halo Tante semuanya, salam kenal, saya Yeremia,” sapa gue sopan sambil memperhatikan Tante Maria, Tante Dita dan Tante Rosa bergantian.
“Ganteng banget anakmu, Lin,” Tante Maria, yang kelihatannya menjadi yang tertua di antara mereka berempat, bersuara. “Kalo anakku perempuan, udah aku jodohin sama anakmu.”
Refleks mami dan ketiga temannya ketawa. Yeah, jokes ibu-ibu pada umumnya.
“Sekolahnya di Altaire, ya?” Sekarang giliran Tante Dita yang berbasa-basi padahal udah jelas kelihatan dari seragam gue. Tapi dimaklumin aja, ikut pertemuan ibu-ibu—atau bapak-bapak kalau lagi sama papi—pasti akan melewati tahap basa-basi kayak gini.
“Iya, Dit, temenan sama anaknya Anantara.” Bukan mami namanya kalo nggak sedikit flexing karena anaknya berteman dengan anak pemilik yayasan sekolah, padahal kenal dengan Kesha juga karena bang Winwin.
“Ayo duduk, Jeng, pesen minumannya … Yeremia juga.” Akhirnya Tante Rosa menutup percakapan basa-basi itu dengan mempersilahkan gue dan mami untuk duduk di kursi yang masih kosong.
“Mami aja, aku nunggu di tempat lain aja.” Nggak mungkin kan, gue bergabung dan ikut ngerumpi bareng ibu-ibu ini?
“Nunggunya di mal ini aja, yo, Yer. Ojo kemana-mana biar Mami nggak susah nyari kamu.”
Gue ngangguk nurut lalu berpamitan dengan ketiga teman mami sebelum pergi dari butik teh itu dan menuju satu-satunya coffee shop yang nggak akan bikin gue mikir panjang dengan minuman yang akan gue pesan.
“Java Chip grande satu, ya,” pesan gue begitu gue tiba di depan kasir. Belum sempat si barista slash mbak kasir sore ini menanyakan payment system gue, gue udah nunjukkin barcode kartu membership yang langsung diiyakan dengan sebuah anggukan dan senyuman ramah.
Beres dengan minuman, gue langsung mencari tempat duduk dan syukurnya gue dapat posisi enak di pojok ruangan yang nggak terlalu ramai dilewati banyak pengunjung.
*
Biasanya apa yang dilakukan anak cowok kalo lagi menunggu? Yup, betul. Main game. Jadi sambil nunggu mami, gue ajak Bang Traven buat mabar Mobile Legend. Sayang banget bang Winwin nggak bisa ikutan karena dia lagi di Seattle dan dengan perbedaan waktu 14 jam, sangat nggak mungkin buat dia ikut main sekarang.
“Bang, bang ke atas!” perintah gue setengah berbisik supaya pengunjung kafe lainnya nggak terganggu dengan kehebohan gue. Maklum aja, biasanya main di kamar dengan kondisi nggak ada siapa-siapa, sekarang terpaksa main di tempat umum modal airpods buat komunikasi antar player.
Bang Traven nggak kedengaran membalas kalimat gue, tapi sedetik kemudian gue mendengar suara perempuan yang nggak asing dan suara itu cukup jelas memenuhi telinga gue.
“Ven, kanvas yang kemarin baru lo beli lo taro mana?”
Sepertinya bang Traven lupa buat matiin microphone-nya karena sekarang gue bisa denger cukup jelas percakapan antara dia dan kak Aurora. Iya, suara perempuan yang nggak asing di telinga gue itu nggak lain nggak bukan adalah suara kak Aurora.
“Di pojok situ, Ra, cari aja …” Bang Traven menjawab pertanyaan kak Aurora, “Halo, Yer? Yer?! Itu musuh—”
“You have been slain.”
Ucapan bang Traven terputus dengan announcement voice dari Mobile Legend yang menyatakan gue kalah di dalam permainan. Pengumuman game yang jarang gue dengar karena seringnya gue memenangkan pertandingan, tapi kali ini harus gue dengar karena konsentrasi gue udah buyar. Pikiran gue ke mana-mana, ngebayangin kak Aurora lagi berduaan di kamar bang Traven dengan dalih ngerjain tugas kuliah atau ngerjain tugas dari klub lukis mereka padahal …
Drrt drrt… drrt drrt…
Ponsel di genggaman gue bergetar, nama ‘Mami’ muncul di layar sebagai penelepon.
“Kenapa, Mi? Udahan ngetehnya?”
“Iyo, kamu di mana?”
“Starbucks. Mami tunggu di aja di TWG, biar aku yang turun.”
“Ndak usah, Yer. Sek Mami yang ke atas.”
Karena mami sudah bertitah meminta gue untuk menunggu dia di sini, jadilah gue membereskan segala perabotan nge-game gue—balikkin airpods ke tempatnya, keluar dari aplikasi Mobile Game dan ngediemin chat bang Traven karena gue masih agak kesel dengan pikiran kacau gue sebelumnya.
“Kamu minum opo, Yer?” Dateng-dateng mami langsung menginterogasi gue karena memang dia se-peduli itu sama gue. Hampir setiap pulang sekolah, dia akan tanya menu makan siang gue di sekolah. Kalau gue ada bimbel dan pulang telat, dia akan tanya cemilan apa yang gue makan sebelum bimbel. Kalau gue pergi keluar dengan bang Traven atau bang Winwin, dia juga akan tanya apa aja yang gue lakukan selama gue pergi. Se-detail itu.
“Java Chip. Mau, Mi?” tawar gue sambil mengangkat sedikit gelas minuman gue yang belum habis.
“Ndak, lah. Pasti manis banget.” Mami meragain gaya merinding-nya kalau lagi nyobain makanan atau minuman gue yang menurut dia over-sweet. Gue ketawa pelan. Thanks to mami, mood gue sekarang perlahan membaik.
“Kamu mau bawa pulang cake?” tawar Mami sebagai salah satu bentuk perhatiannya yang lain. Kalau kalian anggap gue adalah anak spoiled yang semua kemauannya selalu dituruti, kalian salah besar. Mami bersikap seperti ini biasanya karena dua hal, dia lagi seneng banget atau dia tau gue lagi badmood. Dan kayaknya sore ini dia lagi merasakan keduanya.
“Boleh, Mi?” Pertanyaan gue dijawab dengan anggukan mantap mami. Tangannya segera ngeluarin debit card dari dalam dompetnya dan dikasih ke gue. “Beliin juga buat Papi, Mbak Jul sama Pak Yatmo. Pak Yatmo dibeliin dua buat anaknya di rumah. Rasanya sekarepmu, lah, wes mami ra ngerti cake-cake begituan.”
Suara mami yang cukup keras, cempreng dan tentu saja dengan logat Surabaya kentalnya mengundang beberapa customer yang duduk di dekat kami terkekeh pelan. Tapi mami tipe orang yang nggak peduli dengan hal sepele seperti itu, dia justru bangga dengan logat medoknya. Gue pun ikut bangga karena punya mami seperti mami gue.
“Bentar, yo, Mi.”
Nggak lama untuk membeli lima cake, sekarang gue sudah kembali ke meja dengan satu tas kertas besar di tangan kiri.
“Udah, Mi,” ucap gue sambil mengembalikan debit card milik mami. “Yuk, ke bawah. Biar aku telepon Pak Yatmo buat jemput di lobi.”
Mami mengangguk, dia bangun dari duduknya lalu menggamit lengan gue untuk berjalan keluar dari coffee shop itu. Udah jadi kebiasaan mami untuk menggandeng lengan gue di saat tertentu kalau kami lagi jalan berdua. Bahkan kalau lagi jalan dengan papi pun, mami suka melakukan hal ini. Gue nggak masalah dengan gesture mami yang kebanyakan dihindari anak cowok lainnya karena terkesan malu-maluin dan nggak cool, justru yang nggak suka menerima perlakuan mami seperti itu adalah papi. Sambil pura-pura cemberut, biasanya papi akan protes karena merasa kurang perhatian dari mami.
“Yer, tadi pas nunggu kamu di Starbucks, Mami lihat arek cilik pacaran. Kalo Mami tebak, ya … seumuran kamu, lah.”
“Terus, Mi?” tanya gue penasaran. Kemungkinan besar topiknya akan kembali ke obrolan gue dan mami kemarin sore.
“Jek SMA tapi pacarannya wes peluk-pelukkan di mal, ke mana coba mama papanya?”
“Yo kerja, cari duit.” Jawaban asal gue berhasil mendapatkan pelototan mami.
“Mami ingetin lagi, pokoknya kamu nggak ada pacar-pacaran. Nggak usah ikut-ikutan temenmu. Sekolah dulu yang bener, nanti kalo udah waktunya, mami papi juga pasti ijinin kamu buat cari cewek. Lagian cewek jaman sekarang tuh juga pinter-pinter, Yer, jadi kalo mau dapet cewek pinter, cewek genah, kamu juga harus jadi laki-laki pinter, sing genah.”
Instead of kesel karena mami cerewet banget masalah pacaran, gue merasakan hal sebaliknya. Gue bersyukur, menghargai concern mami terhadap gue. Gue tau, mami punya tujuan yang terbaik buat gue. Lagian kalo dipikir-pikir, gue sekarang mau pacaran sama siapa? Kak Aurora?
Begitu nama kak Aurora melintas di kepala, gue cuma bisa senyum tipis, kembali mengingat apa yang tadi gue sempat bayangkan pas denger suara kak Aurora di tengah-tengah permainan gue dengan bang Traven. Bener kata mami, harusnya gue fokus aja dulu sama sekolah, nggak usah pusingin masalah percintaan.
“Yer, kamu denger ra kata Mami?”
Gantian gue yang merangkul lengan mami dan nyenderin kepala di bahunya. “Denger, kok, Mi … Makasih, ya … Udah jadi Mami paling hebat buat Yere.”
“Kamu kesambet opo, toh, Yer? Mau minta nambah uang jajan?” Respons mami seperti respons ibu-ibu pada umumnya kalau anaknya—apalagi laki-laki—mendadak bersikap manis.
“Ih, Mami! Aku beneran ngomong dari lubuk hati yang terdalam, nih. Masak dikatain kesambet,” protes gue setengah merengut.
Mami ketawa, ekspresinya kalau lagi tertawa persis sekali dengan gue—kata orang-orang yang kenal kami berdua, termasuk kak Aurora. “Duh, cah lanang wes gede, Mami jadi terharu. Iyo, sayang, sama-sama. Mami juga bersyukur punya kamu di hidup Mami.”