29.

Sesuai perkataannya via chat tadi siang, Rebecca tiba di depan pintu masuk Marina Bay Sands Theatre sekitar pukul tujuh malam. Begitu sampai, ia segera menemukan Timothy yang sudah tiba di sana terlebih dahulu.

“Udah dinner, Be?” Pertanyaan yang sudah menjadi kebiasaan Timothy terucap kembali begitu saja.

“Udah. Kamu udah?” Rebecca pun sama, ia menanyakan kembali pertanyaan yang sama kepada Timothy.

Timothy hanya menangguk lalu setelah itu ia mengajak Rebecca untuk masuk dengan tiket yang sudah ia tukar sebelumnya.

Begitu duduk di kursi teater, Rebecca sibuk memainkan ponselnya. Perempuan itu terlihat sibuk membalas beberapa pesan yang masuk untuknya.

Sementara Timothy memperhatikan Rebecca dalam diam. Ingatannya kembali terputar ke masa di mana mereka berdua—atau lebih tepat dirinya—memutuskan untuk pergi ke Singapura di bulan Juni ini.

***

Someday in early January, 2022

“Masih ada berapa pasien lagi, Sus?” tanya Timothy setelah pasien rawat jalan yang baru saja ia tangani keluar dari ruang prakteknya.

“Lima, Dok.”

“Oke, sebentar. Yang berikutnya jangan dipanggil dulu.”

Suster yang menjadi asisten praktek lelaki itu malam ini mengangguk mengiyakan. Buru-buru Timothy merogoh kantong gaun dokternya untuk mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada seseorang.

Be, selesai praktek aku boleh mampir apart sebentar?

Begitu pesan dipastikan terkirim, Timothy mengizinkan kembali asisten perawatnya untuk memanggil pasien berikutnya.

***

Mobil Mercedes Benz E-Class abu metalik milik Timothy memasuki lahan parkir gedung apartemen Rebecca. Di pintu masuk, ia disapa ramah oleh petugas keamanan sebelum ia menempelkan kartu akses miliknya dan bergegas naik ke lantai 10, di mana unit milik kekasihnya berada.

Memiliki akses bebas ke apartemen Rebecca tidak lantas membuat Timothy datang sembarangan. Ia selalu meminta izin pada si pemilik untuk berkunjung dan setelah izin keluar, baru ia datang ke sana.

Seperti malam ini, selesai jam prakteknya, ia mengecek ponsel dan mendapatkan pesan balasan yang membuat senyum terukir di wajahnya.

Dateng aja, kebetulan aku masak oseng daging.

Senyum yang sama kembali terlihat di wajah Timothy saat Rebecca menyambutnya hangat di depan pintu.

“Hei, Tim.”

Timothy mencium kening Rebecca dan memeluknya sesaat sebelum ia masuk ke dalam.

“Wangi banget oseng daging kamu, kalah nih restoran Haji Mamat.”

Celetukan Timothy mengundang tawa renyah Rebecca. Setelah lelaki itu menaruh tas dan mencuci tangannya, Timothy dan Rebecca duduk berdampingan di kitchen island untuk makan malam bersama.

“Cobain.” Rebecca menaruh beberapa potong daging masakannya di atas piring Timothy.

Lelaki itu menurut, ia menyuap sepotong daging lengkap dengan nasinya, lalu dilanjutkan dengan menyendok sedikit kuah kaldu yang tersaji di mangkuk sebelah piringnya.

“Be, seriusan, Haji Mamat bisa jiper kalo tau kamu masak seenak ini.”

Rebecca mendorong pelan lengan Timothy. “Apa sih, jangan bikin aku geer, deh.”

Timothy merespons rajukan Rebecca dengan tawa yang menular, karena setelahnya perempuan itu ikut tertawa.

Makan malam itu kembali diisi dengan berbagai topik pembicaraan, mulai dari pasien Timothy, kesibukan kuliah Thomas—adik Timothy, client resek di kantor Rebecca sampai keinginan Rebecca untuk jalan-jalan ke luar negeri.

“Gimana kalo tabungan bareng-bareng kita, kita pake sedikit buat jalan-jalan ke Singapur?”

“Singapur?” tanya Rebecca meyakinkan.

“Iya. Nggak usah jauh-jauh dan lama-lama. 3D2N udah cukup banget, hari pertama nyampe kita bisa explore sekitar hotel, hari kedua bisa ke Marina Bay Sands atau Sentosa Island, hari ketiga bisa belanja—if you want—sebelum pulang.”

Rebecca manggut-manggut sambil berpikir. Yang diucapkan Timothy benar, tiga hari dua malam berada di negara singa putih itu cukup untuk dirinya yang hobi wisata kuliner.

“Nggak mau belanja, maunya wisata kuliner.”

Timothy mengusap-usap pelan kepala Rebecca dengan seulas senyum di wajahnya. “Anything for you, Be ...” Kemudian ia mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di dekat piringnya dan memeriksa jadwalnya. “Kamu ngga buru-buru, kan, perginya? Nggak harus bulan ini atau bulan depan?”

“Nggak, kok. Ngikut jadwal Pak Dokter aja.”

“Kalo gitu bulan Juni, ya? Biar dapet cuaca enak buat jalan-jalan. Gimana?”

“Oke,” jawab Rebecca tapi sejurus kemudian ia kembali bersuara karena Timothy masih asyik mengutak-atik ponselnya. “Kamu nggak mau booking tiketnya sekarang, kan, Tim?” tanyanya curiga.

Timothy tertawa pelan, “hehehe ... Ini aku udah contact Manda minta arrange tiket flight dan hotel buat kita. Sama aku minta dia booked ticket show di Esplanade, biar afdol ke sananya.”

Rebecca menghela nafas pasrah. Harus diakui kalau urusan waktu dan jadwal, Timothy memang sangat teratur. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi kedisiplinan, jadi tidak heran kalau Timothy lebih suka segala sesuatu yang ia lakukan—dan akan ia lakukan—terorganisir dengan baik, sekalipun hal itu adalah jalan-jalan yang sifatnya casual.

“Dah, beres.” Timothy tersenyum puas lalu ia menaruh ponselnya kembali di atas meja dan melirik sekilas ke arah Rebecca yang masih sibuk menghabiskan makan malamnya.

“Be, I promise this trip gonna be unforgettable trip for us.”