Should I Trust Her (or not)?

Selama dua jam pelajaran terakhir, gue udah nggak bisa fokus dengerin apa yang Sir Bagus jelaskan di depan kelas. Pikiran gue melayang kemana-mana, membayangkan apa yang bakal gue lakuin sama Kak Aurora setelah ini. Walaupun cuma sekedar makan burger dan minum ice green tea latte, tetap saja menghabiskan waktu bersama Kak Aurora pasti akan terasa menyenangkan.

“Fokus, kali.”

Di samping gue, Randika berusaha menyadarkan gue dari berbagai khayalan gue siang ini.

“Nanti gue foto catetan lo aja, ya, Ran,” balas gue sambil memasang senyum andalan yang gue punya supaya Randika luluh. Usaha gue berhasil, even gue harus mendengar Randika sedikit ngedumel.

Kring … Kring …

Bel sekolah akhirnya berbunyi. Gue, Randika dan teman-teman 3SOS1 lainnya segera merapihkan meja setelah Sir Bagus meninggalkan kelas kami. Sambil menunggu Randika dengan barang bawaannya yang agak banyak dibandingkan gue, gue mengirim pesan ke Kak Aurora, meminta dia untuk tetap menunggu di kafetaria.

“Udah, yuk.” Akhirnya Randika selesai berberes. “Kak Aur nunggu di mana?”

“Di kafetaria. Mau ikut ke sana?” tawar gue yang dijawab dengan gelengan pelan kepala Randika.

“Michelle nungguin di selasar.” Randika tersenyum bahagia sambil menepuk bahu gue dengan salah satu tangannya yang kosong. “Cabut, ya. Bye … Salam buat Kak Aur!” pamitnya buru-buru lalu dia segera berlari meninggalkan gue sendirian di koridor depan kelas. Gue cuma geleng-geleng kepala lihat tingkahnya, suka ngatain gue bucin padahal sendirinya sama bucinnya.

Selepas kepergian Randika, gue segera pergi ke kafetaria di lantai dasar sekolah Altaire. Suasana kafetaria siang ini cukup ramai dan gue nggak heran akan hal itu karena kafetaria adalah salah satu tempat ter-pewe untuk nongkrong. Banyak murid Altaire yang senang duduk-duduk di sini setelah jam pelajaran usai; entah itu karena iseng, menunggu jemputan datang atau menunggu jam ekskul tiba.

Meskipun ramai, nggak sulit bagi gue untuk menemukan Kak Aurora. Dia sedang duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan dekat jendela yang menampilkan pemandangan lapangan basket sekolah Altaire. Tempat duduk yang sedang diduduki Kak Aurora adalah salah satu spot favorit murid-murid perempuan Altaire, terlebih saat musim pertandingan basket antar siswa Altaire sedang dilaksanakan, karena siapapun yang duduk di sana dapat menonton pertandingan dengan jelas tanpa harus berpanas-panasan ria.

“Masih cocok jadi murid Altaire, Kak.” Gue menyapa ramah Kak Aurora yang lagi asyik menggambar di iPad-nya. Dia mendanga, kemudian tersenyum manis sebelum dia menutup iPad-nya dan memasukannya ke dalam tas.

“Gimana sekolahnya hari ini?” tanya Kak Aurora masih dengan senyum manis terpasang di wajahnya. Sebisa mungkin gue menahan diri untuk tidak heboh sendiri karena senyum Kak Aurora selalu terlihat menggemaskan bagi gue.

“Ya, begitulah,” jawab gue santai sambil duduk di kursi depannya. Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling, beberapa murid lain tertangkap basah sedang memperhatikan gue dan Kak Aurora, tapi gue nggak peduli. Gue sudah cukup terbiasa dengan perilaku murid-murid di sini yang katanya mengidolakan gue beserta kedua ‘abang’ gue yang udah jadi alumni; Bang Win dan Bang Traven.

“Begitulah gimana? Ada ulangan hari ini? Atau latihan soal?” Kak Aurora kembali bertanya penasaran, tapi gue buru-buru mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Gue nggak mau Kak Aurora kedengaran sebelas-dua belas kayak mami di rumah.

“Kak, mending kita ngomongin mau makan apa abis ini. Aku laper.”

Kak Aurora terkekeh pelan, dia juga sepertinya sadar kalau membahas pelajaran seusai jam sekolah rasanya membosankan. “Kamu maunya apa?”

“Burger King, Kak. Mau nggak?”

“Ya udah, boleh.”

Yes!” Gue mengepalkan tangan di bawah meja tanpa terlihat Kak Aurora tanda gue senang. Kak Aurora pun ikut terlihat senang, senyum manisnya masih saja kelihatan jelas di wajahnya.

Sembari berjalan keluar dari kafetaria, gue kembali melihat beberapa murid—yang gue yakini adalah adik kelas gue karena nggak ada satu pun yang gue kenal—sedang mengagumi Kak Aurora. Tidak sedikit juga yang berbisik-bisik dengan sesama temannya, yang gue yakini (lagi), mereka lagi membicarakan gue dan Kak Aurora. Terserah kalau gue dianggap kepedean, tapi kalau bukan lagi ngomongin gue dan Kak Aurora yang lagi lewat di situ, mereka ngomongin siapa lagi?

“Fans-mu banyak banget, Yer,” kata Kak Aurora saat kami sudah keluar dari cafetaria dan berjalan menuju mobil gue yang terparkir di halaman belakang sekolah. Gue menggeleng, nggak mau menganggap siapa-siapa di sekolah ini sebagai fans gue. Gue cuma murid biasa aja. Tapi emang lebih keren dibandingkan yang lain, sih, hehe.

“Tadi Kakak sekilas denger mereka lagi ngomongin Cecil sama Winwin. Lucu banget.” Kak Aurora menyambung ucapannya. “Mereka, tuh, jadian, ya?”

“Hampir,” jawab gue singkat. “Kakak beneran nggak tau? Emang Bang Traven nggak pernah ngomongin?”

Sedetik kemudian gue menyesal. Kenapa, sih, gue harus bawa-bawa nama Bang Traven?

“Kayaknya nggak pernah, deh.” Kak Aurora terlihat berpikir dan sebelum obrolan tentang Bang Traven bikin sore gue jadi kurang menyenangkan—sorry bang, bukan bermaksud apa-apa—gue buru-buru mengajak Kak Aurora untuk segera masuk ke dalam mobil.

“Mikirin itu nanti lagi aja, deh. Ayo naik, Kak, kita ke BK.”

***

Di Burger King untungnya nggak begitu rame. Mungkin karena jam makan siang udah lewat, jadi sebuah keuntungan untuk gue dan Kak Aurora karena bisa leluasa pilih tempat duduk dan nggak perlu tarik urat untuk mengobrol.

“Abis dari sini mau ke seberang nggak?” Gue menunjuk Starbucks yang terletak berseberangan dengan Burger King menggunakan dagu gue. Harap maklum, kedua tangan gue sedang sibuk memegang burger dan kentang goreng.

“Abisin aja dulu burger kamu, Yer.”

Ah, kalau Kak Aurora yang ngomong, gue otomatis mengangguk menurut. Sepanjang menikmati burger masing-masing, kami nggak terlalu banyak bicara. Hanya sesekali Kak Aurora menanyakan kabar guru-guru Altaire dan juga bagaimana pelajaran saat ini. Karena try out pertama gue akan dilaksanakan minggu depan, Kak Aurora menawarkan diri untuk mengajari gue—seperti yang sering ia lakukan setiap ulangan tengah semester atau ujian akhir semester.

“Minggu malem abis Kakak balik dari pameran, kita belajar bareng, ya,” ucap Kak Aurora sebelum melahap sisa burger miliknya.

“Kakak ada pameran apaan, sih?” tanya gue penasaran. Tadi di chat, Kak Aurora memang sempat membahas tujuannya datang ke Altaire hari ini, cuma gue belum bertanya mendetail tentang pameran yang dia maksud.

“Itu, pameran lukisan klub lukis aku. Annual show gitu, buat nampilin hasil karya peserta klub.”

“Berarti lukisan Kakak bakal ada, dong?” tanya gue antusias.

Kak Aurora mengangguk. “Lukisannya Traven juga bakal ada di sana.”

“Kakak sama Bang Traven, tuh, gimana, sih?” Karena nama Bang Traven kembali disebut, akhirnya pertanyaan yang selama ini cuma bisa muter-muter di kepala, terucap juga oleh bibir gue. Kak Aurora sempat diam sejenak sambil menyeruput jasmine tea pesanannya sebelum akhirnya dia menjawab.

“Gimana apanya?” Kak Aurora malah bertanya balik.

“Hubungan kalian. Too close untuk dibilang cuma sahabat.”

Wow, gue setengah nggak percaya dengan diri gue sendiri karena baru aja gue mengucapkan satu kalimat yang terdengar salty—kalo kata anak jaman sekarang. Karena kalimat itu juga, Kak Aurora tertawa cukup keras sampai ia harus menutup mulutnya.

“Aku sama Traven, mah, temen baik, Yer.”

“Temen baik tapi saling suka, ya?”

Gila. Sekarang rasanya gue mau marahin diri gue sendiri karena udah kelepasan bertanya seperti itu. Ditambah nada bicara gue berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Kak Aurora yang ramah, gue lebih ke nada serius cenderung dingin.

“Nggak, Yer.” Kak Aurora memberikan jawabannya dengan singkat dan setelah itu ia mengganti topik pembicaraan kami. “Btw, jadi mau ke seberang?”

Gue mengangguk pelan. Perasaan gue sekarang nano-nano, di satu sisi gue ingin percaya dengan apa yang diucapkan Kak Aurora, tapi dengan sikap Kak Aurora yang selalu senyum-senyum misterius dan selalu mengalihkan topik pembicaraan setiap gue tanya tentang hubungannya dengan Bang Traven, sisi diri gue yang lain enggan untuk percaya jawaban Kak Aurora barusan.