You're Enough
“Lah, dateng juga lo, Kak.” Sapaan Zach di depan pintu pagar rumah Cinere membuat Sagara refleks tersenyum tipis.
“Setelah gue pikir-pikir, kayaknya lebih baik diusir terus nongkrong di depan rumah lo daripada gue was-was di Sentul.”
Zach pun ikut tersenyum mendengar jawaban Sagara, kemudian ia mempersilahkan masuk kekasih kakaknya yang terlihat cukup ribet dengan barang bawaannya.
“Lo bawa apaan aja, sih, Kak? Ribet bener.”
“Sesajen buat Kakak lo.”
Kali ini Zach tertawa cukup keras sampai Anya keluar dari kamar dengan raut wajah protes—ia merasa waktu istirahatnya terganggu.
“Lo kenapa ketawa-tawa, Zach?”
Belum sempat Zach menjawab, raut wajah Anya sudah kembali berubah karena kehadiran Sagara di rumahnya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Anya dengan nada bicara dingin.
Sagara sengaja tidak mendekati Anya, padahal ia ingin sekali memeluk perempuan yang sedang terlihat menggemaskan dengan hoodie kebesaran yang dipakainya. Ia hanya tersenyum tipis sambil mengangkat sedikit kantong belanjaan di tangannya. “Bawa banyak makanan enak buat kamu. Mau nggak?”
Anya melirik sekilas ke arah Zach sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Sagara dan menjawab pertanyaan lelaki itu dengan anggukan pelan. “Mau.”
Zach memutar bola matanya seraya mendengus pelan. “Kalo gini, sih, judulnya gue terusir secara halus,” ucapnya sambil menyambar jaket kulit hitam yang tersampir di atas sofa ruang tengah.
“Mau ke mana lo?” tanya Anya sambil berjalan mendekati Sagara dan Zach.
“Ngungsi. Take your time, guys.“
Kepergian Zach menyisakan Anya, Sagara dan atmosfir canggung di antara mereka. Yang merasa awkward tentu saja Anya, sementara Sagara diam—mempersiapkan diri untuk segala reaksi Anya yang akan ia hadapi.
“Mau makan sekarang nggak? Ini aku bawain mie ayam, coklat, keripik, sama panini peanut butter kesukaan kamu. Aku juga bawa caramel macchiato yang seliter.”
“Kamu mau piknik di rumah aku?”
Sagara menahan senyumnya mendengar respons Anya. Suara perempuan itu masih terkesan dingin, tapi justru terdengar lucu di telinga Sagara.
“Iya, piknik biar kamu nggak kesel lagi sama aku.”
“Aku nggak kesel sama kamu?!”
Kali ini Sagara hanya menghela nafas pelan sambil menaruh barang bawaannya di atas meja ruang tengah. “Ini dipilih dulu, deh, kamu mau yang mana.”
“Mau mie ayam,” jawab Anya cepat.
Sagara segera duduk dan membuka kotak mie ayam yang ia beli dari restoran bakmi terkenal di dekat rumah Anya. Dengan telaten ia menuang sedikit kuah ke dalam mie ayam itu sesuai dengan selera Anya.
“Sini duduk.” Sagara kemudian menepuk-nepuk pelan dudukan sofa yang kosong di sisi kanannya. Anya pun menurut, ia duduk dan menerima kotak mie ayam yang kini sudah siap disantap dari Sagara.
“Kamu nggak makan?” Anya bertanya dengan suara yang sudah lebih melunak.
Sagara menggeleng pelan. “Kamu aja, aku nanti gampang.”
Mendengar jawaban Sagara, Anya menyodorkan satu suapan mie ayam ke depan mulut Sagara. “Makan. Nanti kamu sakit.”
Sagara tidak langsung membuka mulutnya. Ia menatap sesaat Anya yang sedang memperhatikannya dengan tatapan sendunya. Lewat matanya, perempuan itu mengisyaratkan Sagara untuk segera menerima suapan mie ayamnya.
“Okay.” Sagara kemudian menyuap mie ayam itu dan mengunyahnya dalam diam. Anya pun melakukan hal yang sama, ia menyantap kembali mie ayamnya sambil sesekali menyuapi Sagara tanpa berbicara sedikit pun.
“Masih kesel sama aku nggak?” tanya Sagara pelan setelah seporsi mie ayam itu sukses mereka habiskan bersama.
“Mau caramel macchiato-nya.”
“Pertanyaan aku nggak mau dijawab dulu?” Sagara kembali bertanya
Anya melirik ke arah Sagara. Lelaki itu sudah terlebih dahulu memperhatikan dirinya dengan tatapan teduh yang tidak pernah ia kira akan menjadi tatapan kesukaannya. Awal mengenal Sagara, ia pikir lelaki itu adalah seorang yang angkuh dan apatis, tapi justru ia salah besar.
“Nggak kesel, kok,” jawab Anya ragu.
Sagara terkekeh pelan. Ia menuang caramel macchiato pada gelas kosong yang sebelumnya sudah ia ambil di dapur lalu memberikannya kepada Anya.
“Berarti boleh, dong, aku peluk kamu?”
Anya kembali menatap Sagara dengan puppy eyes yang tidak dapat menahan diri lelaki itu untuk segera memeluk perempuannya meskipun ia belum mendapat izin sepenuhnya. Tapi belum sampai lima menit, Sagara mendengar Anya terisak pelan, refleks ia melepas pelukannya.
“Kok nangis?”
Pertanyaan Sagara dijawab dengan isakan tangis yang semakin keras. Kini Anya menyandarkan kepalanya di dada bidang Sagara, lelaki itu pun segera mengusap-usap lembut puncak kepala Anya.
“Aku takut.” Di sela isak tangisnya, Anya berusaha memberi penjelasan. “Aku takut kamu beneran selingkuh, aku takut ...”
Sagara kembali memeluk Anya, tangannya tidak berhenti mengelus lembut kepala perempuan itu. Ia tidak lagi bicara, membiarkan ruang tengah yang didominasi dengan perabotan berbahan kayu itu dipenuhi oleh isak tangis Anya. Ia mengizinkan perempuannya untuk terus menangis sampai semua rasa sedih dan takutnya memudar.
“Aku sayang kamu.”
Sebuah pengakuan tak terduga dari Anya membuat Sagara tersenyum lebar. Ia kemudian meraih wajah Anya agar dapat menatap mata perempuan itu sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
“Aku juga sayang kamu. Nggak usah nangis lagi, ya? Aku nggak akan kemana-mana. Nggak akan selingkuh juga sama siapa-siapa. You're enough Zefanya.”
Anya mengangguk-angguk perlahan dan Sagara menutup kalimatnya dengan satu ciuman ringan di kening perempuan itu.
“Kamu tapi beneran kayak mau piknik, deh, Ga.” Anya kembali berkomentar setelah ia puas menyesap caramel macchiato-nya.
“Jaga-jaga just in case aku diusir sama kamu, ini jadi bekal aku buat nongkrong di luar rumah kamu.”
Anya spontan memukul pelan lengan Sagara. “Kok ngeselin, sih?!”
***