Three words that they always (and never bored to) say

Sekitar jam tujuh malam, sedan hitam Winwin tiba di lapangan parkir Plataran Senayan. Lelaki itu segera turun dari mobil dan pergi menuju restoran yang terdiri dari beberapa lounge. Di pintu depan ia disambut oleh petugas restoran yang menanyakan status reservasinya.

“Kayaknya udah reservasi, Mbak. Atas nama Ten,” ucap Winwin tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya; bukan Ten yang mereservasi tempat itu melainkan istrinya sendiri, Kalina.

“Maaf, Pak, tapi tidak ada reservasi atas nama Ten.”

“Hah?” Wajah Winwin terlihat bingung. “Sebentar, ya, Mbak.”

Winwin melipir, sedikit menjauhi pintu untuk menghubungi Ten dan menanyakan keberadaan sahabatnya itu. Percobaan telepon pertama dan kedua gagal, untungnya di percobaan telepon ketiga Ten mengangkat panggilan Winwin yang sudah sedikit merasa keki.

“Lo di mana?”

“Di dalem.”

“Dalem mana?” tanya Winwin tidak sabar. “Lo keluar, deh. Gue di depan Pidari House.”

“Gue lupa bilang, gue di Rumah Kaca.”

Winwin menghela nafas demi mengontrol emosinya walaupun ia sudah terbiasa kalau berjanji dengan Ten pasti ada saja kecerobohan lupa memastikan lokasi pertemuan mereka.

“Ya udah, bentar gue kesana.”

Winwin memutus hubungan telepon itu dan kembali berbicara kepada petugas restoran untuk minta diantarkan ke Rumah Kaca yang dimaksud Ten. Tetapi meskipun ia sudah tiba di sana, Winwin tetap tidak melihat sosok Ten sehingga ia kembali menelepon sahabatnya itu.

“Ten, gue udah di Rumah Kaca. Lo di mana?”

“Apart.”

Jawaban Ten membuat Winwin geregetan. “Ten! Serius, kek. Lo di mana?”

Ten tertawa terbahak. Ia dapat membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi kesal Winwin saat ini. “Serius gue di apart. Nih, lagi main sama anabul gue sambil nunggu Jocelyn pulang.”

“Terus lo ngapain ngajakkin gue ke Senayan?!” protes Winwin dengan nada kesal. Kesal karena seharusnya ia bisa segera pulang ke apartemennya, bertemu dengan Kalina dan buah hati mereka, bukannya melakukan hal yang buang-buang waktu seperti saat ini.

“Ada yang lagi nungguin lo di sana.”

Dahi Winwin mengerut bingung. Penasaran dengan kalimat yang dimaksud Ten, ia kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang dimaksud sahabatnya itu, sampai akhirnya ia menemukan sosok wanita yang tengah berdiri di sudut ruangan dengan tatapan berbinar ke arahnya, Winwin spontan tersenyum lega.

“I guess you already meet her. Happy birthday, Bro. Enjoy your dinner.”

Ten memutus hubungan telepon itu tanpa menunggu lagi balasan dari Winwin, sementara Winwin sendiri kini sudah berjalan menghampiri sosok wanita yang masih setia berdiri menunggu kedatangannya. Wanita itu selalu terlihat cantik di mata Winwin, dan malam ini kecantikan wanita itu berlipat ganda dengan rambut coklat panjangnya yang dibiarkan tergerai, gaun hitam lengan pendek selutut serta heels berwarna senada.

“Kenapa tadi mukanya merengut gitu? Kesel, ya, sama Ten?” tanya wanita itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Iya, karena aku nggak mungkin kesel sama kamu,” jawab Winwin sebelum ia mencium kening wanita itu lalu mereka berdua duduk berhadapan. “Tell me how you arrange this, Kalina. Dan kenapa si Ten bisa ikut-ikutan.”

Kalina tertawa pelan. “Semalem aku reservasi tempat sama minta Haechan kosongin waktunya malem ini buat jagain Dede. Terus tadi siang minta tolong Ten buat pastiin kamu nggak lembur, baru deh, dateng ke sini sekalian naro Dede di apart Haechan.”

Winwin hanya bisa geleng-geleng kagum mendengar bagaimana Kalina menyiapkan surprise ulang tahun untuknya. Wanita di hadapannya ini selalu punya seribu satu cara untuk membuatnya bahagia dan ia sangat bersyukur karena dapat memilikinya sebagai teman sehidup semati.

“Win, kok, bengong? Masih ada kerjaan yang belum beres di kantor?” tegur Kalina melihat Winwin memangku dagu dengan kedua tangan dan menatap kosong keluar dinding kaca.

“Eh, nggak, kok, Kal. Aku cuma lagi mikir aja, tumben kamu kasih aku surprise di luar begini. Bukannya aku nggak seneng, cuma yang aku tau kamu biasanya lebih seneng masak sendiri di apart terus kita rayain sama-sama di apart.”

Kalina kembali tersenyum lebar. Ia meraih tangan Winwin lalu digenggam serta dielus punggung tangan itu perlahan. “Tahun ini ganti suasana dulu, Win. Lagian kamu nggak bosen sama nasi kuning buatan aku tiap tahun? Belum lagi kalo Dede atau Haechan ulang tahun, aku juga masak menu yang sama.”

Winwin menggeleng. “Mana ada aku bosen, Kal. I never get bored and tired when it comes about you.” Kemudian Winwin mencium pelan punggung tangan Kalina yang masih dalam genggamannya. “Makasih, ya, Sayang.”

“Aku juga makasih sama kamu, Win. Makasih udah lahir ke dunia ini dan selalu bertahan untuk segala sesuatu yang kamu hadapi, baik itu hal baik ataupun hal buruk.”

Perasaan bahagia Winwin semakin meluap di dalam diri lelaki itu. Mumpung makan malam mereka belum tersaji, buru-buru ia menghampiri Kalina lalu mencium puncak kepala serta memeluk istrinya dari belakang.

“Kal,” panggil Winwin dengan suara rendahnya. “Abis ini kita harus jemput Dede di apart Haechan, ya?”

“Ya … Iya. Masa anak kamu nggak dijemput balik?”

“Kalo Dede dititip sampe besok pagi sama Haechan, gimana?”

Kalina sedikit memutar lehernya ke belakang. Didapatinya Winwin sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap jawaban Kalina akan sesuai dengan keinginan suaminya itu.

“Coba kamu yang ngomong sama Haechan. Dia lebih nurut sama kamu daripada sama aku.”

Winwin terkekeh pelan. “Tapi baju sama perlengkapan Dede gimana?”

“Kamu kayak nggak tau istri kamu aja, deh, Win. Aku selalu bawa lebih baju sama pampers Dede, buat jaga-jaga kejadian kayak gini.”

“Kayak gini?” tanya Winwin jahil dengan alis terangkat sebelah dan dagu yang sengaja ia istirahatkan di bahu Kalina. Sampai pramusaji datang mengantar pesanan mereka pun, belum ada tanda-tanda Winwin ingin melepaskan dirinya dari Kalina. Melingkarkan kedua tangannya di leher Kalina dan memeluk wanita itu dari belakang sudah menjadi salah satu hal kesukaannya sejak awal mereka pacaran.

“Iya, kayak gini. Kalo bayi aku yang satu lagi, lagi manja.”

Winwin tersenyum senang, ia mencium pipi kanan Kalina lalu kembali duduk di kursinya. “Bener, ya, aku ngomong sama Haechan sekarang? Kamu nggak boleh nyesel, lho.”

Kini Kalina tertawa pelan sambil ia menyiapkan alat makannya. “Nyesel kenapa, Win?”

“Nyesel, soalnya malem ini aku banyak maunya.”

Kedua pipi Kalina merona merah karena malu. “Win, ngomongin itu nanti lagi, ah. Ayo makan dulu.”

“Bentar, aku chat Haechan dulu sebelum kamu berubah pikiran.”

Kalina hanya bisa menahan senyum melihat tingkah suaminya yang tidak jarang seperti anak-anak.

Sent. Sekarang kamu nggak bisa berubah pikiran lho, Kal,” ujar Winwin dengan nada setengah mengancam tapi bercanda tentunya.

“Iya, Sayang, iya … Ayo sekarang kamu makan dulu, nanti keburu dingin makanannya.”

Winwin tidak menggubris permintaan Kalina, ia justru kembali memanggil istrinya dengan nada bicara yang lembut.

“Kalina.”

Sang empunya nama mengangkat kepalanya, mendapati kembali Winwin dengan tatapan teduh yang selalu berhasil menenangkan hatinya.

I love you, Kalina Maheswari.”

I love you too, Winwin.”