Hunch

Hunch: a feeling or guess based on intuition rather than known facts.

Gue yakin setiap orang pasti punya masa di dalam hidupnya, di mana mereka nggak mau bersosialisasi dengan siapa-siapa. Mereka cuma mau ngabisin waktu sendirian dengan pikirannya sendiri, ditemani segelas kopi atau snack—kayak gue saat ini.

Sore ini, selesai dari bimbel yang menguras otak dan tenaga, gue memilih untuk duduk sendirian di Lawson daripada pulang ke rumah. Bukan karena gue lagi menghindari mami yang pasti akan memberondong gue dengan segudang pertanyaan terkait tweet Anas yang gue retweet tadi siang, tapi seperti apa yang gue bilang sebelumnya, gue lagi kepengen punya waktu sendiri.

Bahasa kerennya: me time.

Setelah membeli segelas ice coffee dan onigiri tuna mayo kesukaan gue, gue duduk di kursi outdoor salah satu minimart langganan yang masih satu kompleks dengan rumah dan sekolah gue. Udara Cibubur sore ini cukup dingin, anginnya lumayan kencang berhembus, kayaknya nanti malam bakal hujan. Gue pun refleks ngeluarin ponsel dari saku seragam dan pergi ke salah satu room chat yang dulu cukup sering gue kunjungi sampai akhirnya ibu jari gue berhenti—menggantung di atas layar ponsel begitu saja. Gue diam beberapa saat, melihat status online di bawah nama pemilik room chat yang sedang gue kunjungi, sampai akhirnya status itu menghilang dan layar ponsel gue mati. Ibu jari gue masih diam di posisi yang sama, sampai akhirnya gue kembali menyalakan ponsel gue dan memutuskan untuk keluar dari room chat itu.

“Woi.”

Suara cempreng milik Bang Traven tiba-tiba kedengaran jelas di telinga gue. Ternyata tanpa gue sadari si pemilik suara daritadi udah berdiri di dekat meja gue dan sekarang lagi narik kursi kosong di hadapan gue lalu duduk di sana.

“Bengong aja lo, mikirin apaan, sih?” tanyanya sambil ngeluarin rokok elektrik dari kantong kemejanya. “Nilai try out gimana?”

“Jelek,” jawab gue pendek sesuai faktanya.

“Mami gimana?” Bang Traven masih kepo dengan reaksi mami. Sama persis dengan Kak Aurora.

“Ya … Ada ngomel-ngomel dikit. It’s okay, lah.”

“Bukannya lo belajar sama Aur, ya?”

Gue berusaha untuk bersikap biasa aja, tapi nyatanya Bang Traven masih tetap bisa membaca perubahan ekspresi gue ketika dia menyebut nama Kak Aurora. Bang Traven ketawa pelan sebelum dia menyeruput es kopinya dan kembali mengajak gue bicara.

“Lo sama Aur kenapa, sih, Yer? Did she does something wrong?

Gue menggeleng pelan, nggak mau Bang Traven semakin ketawa kalau dengar nada bicara gue yang sulit gue kontrol.

“Orangnya ngeuh, lho, kalo lo lagi jauhin dia.”

“Kak Aur ngadu sama lo?”

Bang Traven mengangguk sambil menghisap rokok elektriknya. Seketika pertanyaan gue terdengar bodoh. Udah pasti Kak Aurora bakal ngadu sama Bang Traven, secara mereka, kan—

Drrt … Drrt …

Gue dan Bang Traven menoleh kompak ke ponsel Bang Traven yang diletakkan begitu saja di atas meja. Ponsel itu sedikit bergerak berputar karena getarnya tidak berhenti, tanda adanya telepon masuk untuk sang pemilik telepon.

“Kenapa, Mar?”

Gue menaikkan sebelah alis. Baru pertama kali gue dengar nama panggilan itu, berarti si penelepon adalah seseorang yang tidak gue kenal.

Ralat, belum gue kenal.

“Gue lagi nongkrong, sih … Lo perlu gue jemput? Cowok lo emang ke mana?”

Sekarang gue memiringkan sedikit kepala gue. Biasanya gue cukup lihai menebak apa yang sedang teman-teman gue atau mami bicarakan di telepon dengan lawan bicaranya, tapi kali ini nggak. Gue agak bingung dan dengan arah topik pembicaraan di telepon Bang Traven sore ini.

“Ya udah, lo tunggu situ. Gue jemput.” Nada bicara Bang Traven langsung terdengar berbeda seratus delapan puluh derajat. “Nggak, Mar. No excuse. Lo tunggu situ. Gue jemput.”

“Siapa?” tanya gue penasaran setelah hubungan telepon itu selesai.

“Ada, lah.” Bang Traven menjawab singkat sebelum dia menyeruput cepat minumannya. “Gue cabut duluan, Yer. Lo balik rumah, gih.”

“Bang.” Gue mencengkram pergelangan tangan Bang Traven, meminta jawaban yang jelas dari dia. Tapi Bang Traven cuma senyum tipis, dia ngelepas tangannya dari cengkraman gue lalu mengacak-acak rambut gue.

“Ntar kapan-kapan gue kenalin. Kalo udah ada kepastian.”

Setelah memberikan jawaban abu-abu, Bang Traven langsung pergi gitu aja ninggalin gue. Tapi belum sampai lima langkah dia pergi, Bang Traven kembali memutar tubuhnya.

“Yer, gue sama Aurora nggak ada hubungan apa-apa, kok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan gue dengan Mini Cooper hitam kesayangannya.

Dahi gue mengerut bingung untuk beberapa sebelum akhirnya kerutan itu menghilang, berganti dengan mata gue yang membelalak lebar.

“Wait—what?”

Sejurus kemudian, semua kalimat mami dari percakapan kami minggu lalu berputar kembali dalam ingatan gue. Sangat jelas sampai-sampai gue nggak berhenti merutuki diri gue sendiri karena gue sudah terlalu bodoh untuk menjadi seorang Yeremia Pramudya.

*

Kebiasaan mami setiap sore, setiap gue pulang sekolah, nggak pernah berubah; duduk manis di ruang tengah, baca buku sambil menikmati chamomile tea favoritnya. Ekspresi dan kalimat yang diucapkan pun selalu sama setiap menyambut kedatangan gue, terlepas dari apapun yang dia tahu tentang gue selama di sekolah hari itu.

“Kon mandi dulu, abis itu duduk sini temenin Mami.”

Gue cuma mengangguk nurut lalu naik ke lantai dua untuk melakukan perintahnya. Dan nggak sampai setengah jam, gue sudah duduk manis di sofa berseberangan dengan mami.

“Hasil Try Out-mu kenapa begitu, Yer? Mami sedih, lho.”

Kalimatnya diucapkan bersamaan dengan ekspresi yang mewakilkan perasaannya. Binar matanya memang sedikit berbeda dibandingkan saat gue mendapat hasil ulangan yang memuaskan.

“Sorry, Mi.” Gue cuma bisa ngomong itu dengan pelan. Walaupun gue sempat merasa nggak peduli dan merasa bisa memperbaiki nilai gue di Try Out kedua, tetap aja, melihat ekspresi mami sekarang ini membuat rasa bersalah gue muncul.

“Kamu, kalo emang nggak mau belajar sama Aurora lagi, Mami wis rapopo. Tapi nggak berarti nilaimu elek gini.”

Sekarang gue diam, nggak berani menjawab dengan satu kata apapun. Gue hanya berharap habis ini mami nyuruh gue naik ke atas buat balik belajar, atau istirahat, atau makan cemilan sore yang disiapin Mbak Jul—walaupun nyatanya nggak.

“Kamu beneran naksir Aurora, Yer?”

Sesuai dugaan yang tidak gue inginkan, mami kembali menanyakan hal yang sama persis seperti isi chat-nya beberapa jam lalu.

Gue mengangguk pelan, tapi setelah itu buru-buru gue memberi sebuah sanggahan. “Tapi sekarang udah nggak naksir lagi, kok, Mi.”

“Kok gitu? Emang kamu naksir dari kapan? Coba cerita sama Mami.”

Kalau sudah ada kalimat ‘cerita sama Mami’, gue hanya bisa menghela nafas dan menceritakan sejujur-jujurnya sesuai permintaan mami, setelah sebelumnya gue memastikan Mbak Jul atau Pak Yatmo lagi nggak ada di sekitar ruang tengah.

Gue mulai cerita dari bagaimana perasaan gue saat kali pertama gue ketemu Kak Aurora—saat dia dan Bang Aldi sedang pindahan ke rumah gue yang dijadikan rumah kontrakan oleh mami dan papi. Saat itu gue merasa senang karena akhirnya gue punya temen main, setelah sekian lama gue selalu main sendiri karena gue anak tunggal. Gue juga cerita bagaimana Kak Aurora selalu perhatian ke gue, perhatian yang lama-lama membuat gue menaruh hati padanya.

Sepanjang gue cerita, mami hanya diam—mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menyeruput minumannya. Sampai gue cerita dugaan gue akan hubungan Kak Aurora dan Bang Traven, mami baru berkomentar.

“Kamu, tuh, mirip papimu.”

Gue menaikkan sebelah alis, bingung karena tiba-tiba mami sebut-sebut papi yang jelas banget nggak ada hubungannya dengan cerita gue barusan.

“Suka berasumsi sendiri. Tau dari mana coba, Aurora sama Traven pacaran? Sok tau kamu, Yer.”

Astaga, baru kali ini gue di-roasting sama mami sendiri di depan muka gue langsung.

“Ya, tau, lah, Mi. Siapapun yang liat Kak Aurora sama Bang Traven bareng-bareng juga pasti bisa nebak kalo mereka, tuh, ada hubungan khusus.”

“Mami ndak nebak gitu, tuh.”

Gue menghela nafas pelan. Mami bukan tipe yang senang berargumen, tapi baru kali ini gue merasa mami sedikit ngotot dengan pemikirannya.

“Aurora Traven, tuh, bestie, Yer. Kalo orang pacaran nggak akan kayak gitu tingkahnya.” Mami mau kembali menyeruput tehnya, tapi karena ternyata tehnya sudah habis, dia menjeda sebentar percakapan kami dengan pergi ke ruang makan untuk mengambil segelas air putih.

“Mami bilangin, ya, Yer.” Mami kembali bersuara setelah dia kembali ke ruang tengah. “Selama kamu nggak dengar langsung dari mulutnya Aurora dan Traven kalo mereka pacaran, jangan pernah sekali-kali berani berasumsi kayak gini. Masalahnya, tuh, kamu kalo udah berasumsi sendiri, keseringannya overthinking sama asumsimu itu. Imbasnya nilai TO-mu jadi elek.”

Okay, Mami’s words were right to my heart. Apa yang diucapkan mami benar. Gue memang suka terlalu banyak berasumsi dan buruknya, gue selalu mikir segala kemungkinan dari asumsi yang gue pikirkan itu. Keburukan lainnya yang nggak kalah buruk adalah, kemungkinan-kemungkinan yang gue pikirkan itu sifatnya negatif.

Gue ribet, ya? Emang, hahaha.

“Coba tanya dulu sama Traven dan Aurora. Tanya langsung, ndak usah kode-kodean. Kalian bukan lagi anak kecil. Kalo udah denger jawabannya baru, deh, kamu bisa nentuin langkah selanjutnya kamu harus gimana. Tapi kalo Mami bilang, sih, mereka ndak pacaran.”

Gue diam sebentar sebelum otak gue sadar akan kalimat janggal yang diucapkan mami. “Wait, Mi. Langkah selanjutnya? Maksudnya?”

Mami nggak langsung menjawab. Dia mengambil buku dan ponselnya yang daritadi sengaja ditaruh di atas meja lalu bangun dari duduknya.

“Ya … Langkah selanjutnya. Kalo Traven Aurora ndak pacaran, kenapa kamu harus berhenti naksir Aurora?”