57.
Mengulang berkali-kali satu hal yang sama adalah kegiatan yang membosankan, termasuk melatih berulang bagian yang masih sulit dikuasai Kenan untuk lagu duetnya dengan Dhania. Jadwal tampilnya memang masih lama, tapi Kenan bukan tipe ‘sistem kebut semalam’. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang sudah diberikan Mr. Ali kepada dirinya dengan memberikan penampilan seadanya. Meski hanya tampil kurang dari lima menit, Kenan tetap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik di atas panggung.
Sesi latihan Kenan siang ini berhenti saat ia mengambil jeda untuk meminum air putihnya. Di saat bersamaan, pintu ruang latihannya dibuka dan seseorang yang tidak Kenan duga menjulurkan kepala ke dalam ruang latihannya.
“Hai, Ken. Ganggu nggak?”
Kenan buru-buru meneguk air putihnya agar ia bisa segera menjawab pertanyaan itu. “Eh, Dhania. Nggak, kok. Ada apa?”
Dhania, yang selama satu pekan ini mati-matian Kenan hindari, memasuki ruang latihan yang ia gunakan siang ini, mengikis jarak antara dirinya dengan perempuan itu.
“Gue udah cukup menguasai part awal, nih. Kira-kira kalau sekarang latihan bareng, keberatan nggak?”
Andai saja Kenan berani menolak ajakan Dhania, saat ini sudah pasti ia akan menggeleng keras dan mengatakan tidak. Kemudian mulutnya akan lanjut mengucapkan kalimat yang sayang, pada kenyataannya hanya bisa ia gumamkan dalam hatinya.
“Boleh, deh.”
Wajah Dhania terlihat berseri. Ia mengeluarkan lembaran partitur yang sudah disusun sedemikian rupa agar mudah dibolak-balik, lalu duduk di sisi kanan bangku piano, tempat di mana ia akan memainkan bagian Primo.
“Ayo, Ken.” Ajakan Dhania membuyarkan keraguan Kenan. Karena tidak bisa menghindar, Kenan pun duduk dan mereka segera memulai sesi latihan bersama untuk pertama kalinya. Mulanya Kenan tidak sepenuhnya fokus, tapi keseriusan Dhania membuat Kenan sadar kalau ini bukan saatnya untuk memikirkan yang lain selain sesi latihan mereka. Hingga tanpa terasa satu jam berlalu, ponsel Dhania yang ditaruh di atas piano bergetar, spontan menghentikan acara latihan duet mereka.
“Halo? Gue sama Kenan di lantai tujuh, di practice room B … oh, yaudah. Ke sini aja.”
“Siapa, Dhan?” Kenan tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya. Dalam hati ia menyesali karena mulutnya terlalu cepat berbicara sebelum otaknya sempat berpikir.
“Yudha. Katanya mau ke sini.”
Kenan hanya dapat membulatkan bibir tanda mengerti. Lelaki yang ia duga sebagai kekasih Dhania akan datang dalam beberapa saat lagi. Kenan hanya berharap semoga Yudha tidak bersikap dingin pada dirinya karena kejadian yang terjadi saat makan siang tempo hari dan kini Dhania menjadi partner duetnya.
“Dhan!” Teriakan Yudha yang cukup keras sukses menembus pintu kedap suara, mengalihkan fokus Dhania yang sedang sibuk mengulang bagian terakhir dari lagu duetnya.
“Dateng deh, si rusuh.” Dengan mulut bergumam pelan—tapi terdengar jelas di telinga Kenan—Dhania bergegas merapikan barang-barangnya dan keluar dari ruang latihan. “Ken, latihannya sampe sini dulu, ya. Nanti gue WA lagi buat next practice-nya. Anyway, thank you udah bersedia latihan sekarang. Gue jadi tau bagian mana yang harus dilancarin lagi.”
Kenan hanya mengangguk pelan, sembari ia berjalan menuju pintu untuk mengantar Dhania keluar, meski rasanya enggan karena mau tidak mau ia akan kembali bertatap muka dengan Yudha.
“Udah, kan, latihannya?” Begitu pintu dibuka, Yudha segera bertanya sambil memperhatikan Dhania dan Kenan bergantian. “Yuk, makan. Gue laper.” Dan tanpa banyak basa-basi Yudha segera menarik lengan Dhania hingga perempuan itu hanya dapat melambaikan tangannya singkat sebagai salam perpisahan dengan Kenan.
“Wih, abis latihan sama Dhania?” Sosok Daffa datang dari arah koridor yang berlawanan dengan yang dilalui Dhania. “Gimana, lancar nggak?” Daffa melanjutkan pertanyaannya dengan nada jahil.
“Lancar.” Kenan menjawab seadanya. “Udah, ya. Gue mau balik latihan lagi.”
“Eh, buset, deh.” Daffa buru-buru menarik lengan Kenan sebelum ia kalah cepat dengan gerak lelaki yang sudah dikenalnya sejak mereka bersekolah di SMA yang sama. “Lo kenapa, sih? Akhir-akhir ini keseringan di ruang latihan terus.”
“Namanya juga siswa akademi musik, sering-sering di ruang latihan hal yang wajar, lah.”
“Nggak wajar setelah minggu kemarin lo selalu wara-wiri tiap jam istirahat, tapi sekarang balik ngedokem lagi di ruang latihan. Emang nggak laper?”
“Ada roti.” Kenan terus menyanggah pertanyaan Daffa agar percakapan di antara mereka cepat selesai dan ia bisa kembali menyendiri.
“Dhania, ya? Lo keliatan kayak lagi ngehindarin dia. Btw, Dhania juga ngerasa kalo lo ngehindarin dia, makanya tadi dia sengaja dateng nyamperin lo ke sini.”
Celetukan asal Daffa tidak disangka Kenan. Kedua matanya menatap Daffa ragu sebelum ia menyerah dengan menghela nafas pelan.
“Cowok tadi tuh, cowoknya Dhania, ya?”
Daffa spontan tertawa. Butuh waktu cukup lama untuk Daffa berusaha menahan tawanya agar tidak mengganggu siswa lain yang sedang berlatih di ruangan lain.
“Gimana ceritanya lo nyimpulin si Yudha as cowoknya Dhania?”
“Abisnya mereka bareng mulu, makanya gue tanya sama lo. Lo kan, keliatannya cukup deket sama mereka berdua.”
Daffa menahan senyumnya. “Kalo Dhania sama Yudha pacaran yang ada perang dunia ketiga, Ken.” Daffa kemudian menepuk-nepuk pelan bahu Kenan. “Besok jangan jadi siput lagi, ya. Main-main ke kantin pas jam istirahat, duduk sama gue, Dhania, Yudha. Ada juga anak gitar, Pandawa sama anak vokal, Rio. Nanti lo tau deh, statusnya Dhania Yudha tuh, apa.”
“Lo nggak bisa kasih tau sekarang aja?”
“Lo suka sama Dhania, ya?”
“Emang keliatan banget?”
Daffa kembali tertawa. Lebih keras dari tawa sebelumnya hingga ia mendapat teguran dari staf yang duduk di meja depan, yang bertugas mencatat pengguna ruang latihan dalam satu hari sekaligus menjaga keamanan dan kenyamanan lantai tujuh—di mana para siswa memiliki akses untuk menggunakan ruang latihan sesuai kebutuhan mereka.
“Duh, Ken.” Daffa sengaja mendorong Kenan kembali masuk ke dalam ruang latihan agar ia tidak kena tegur lagi. “Jelas keliatan, lah. Sejak lo makan siang sama Mr. Ali dan Dhania, gue udah curiga. Nggak pernah sekali pun, selama gue kenal sama lo, lo pergi makan sama guru piano lo.”
“Itu accident.”
“Ya, I know. Dhania cerita dan gue yakin aslinya lo cuma mau ajak Dhania.”
Kenan kembali menghela nafas pasrah. “Gue nggak tau bisa ini bisa dibilang suka atau enggak, tapi jujur aja, gue tertarik untuk berteman sama dia. Gue semacam punya keinginan buat deket sama dia.”
Daffa tersenyum jahil. “Dhania Yudha nggak pacaran, kok. Mereka tetanggaan dan sahabatan.”
Mata Kenan melebar tak percaya. “Tetanggaan?”
“Iya, tetanggaan. Rumahnya sebelah-sebelahan. Eh, sebelah-sebelahan atau seberang-seberangan nggak tau, deh. Yang jelas tetanggaan.”
Tanpa sepengetahuan Daffa, Kenan menghela nafas lega dengan pelan. Kekhawatirannya selama ini sirna dalam satu kalimat yang diucapkan Daffa beberapa saat lalu. Walau pada akhirnya ia harus jujur pada Daffa tentang apa yang ia rasakan terhadap Dhania, setidaknya ia mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan yang selama ini terlalu takut untuk ia tanyakan pada siapa-siapa.
“Jadi, suka nih, sama Dhania?”