One favorite things to do

Jo, di mana?

Itulah pesan yang kuterima satu jam yang lalu dan saat ini si pengirim pesan sudah duduk berhadapan denganku, hanya terpisahkan oleh sebuah meja kecil di mana terdapat dua gelas mocktail pesanan kami.

“Harusnya kamu nggak usah jemput aku, Ten. Aku bisa pulang naik taksi online.”

Ten menggeleng mendengar ucapanku barusan. “It’s okay, Babe. Sekalian aku jalan-jalan, bosen juga cuma di apart seharian,” balasnya setelah ia menyesap minumannya. “Gimana deal-deal-annya?”

Aku tersenyum lebar. “Sukses, dong. Soalnya didoain mantan pacar aku.”

“Mantan pacar?!” tanya Ten dengan alis terangkat sebelah.

“Iya, mantan pacar aku; kamu.”

Ten tertawa pelan. “Duh, the jokes.”

Kini senyumku terkulum. Aku tahu candaanku lebih sering terkesan garing dibandingkan lucu, tapi Ten selalu berusaha tertawa setiap aku berusaha melucu. Katanya ia tertawa agar aku tidak putus asa dan terus mencoba sampai candaanku menjadi lucu—definisi lucu yang sesungguhnya.

Sedikit menyebalkan, ya?

Anyway next time kamu nggak usah say sorry kayak tadi, ya. Aku beneran nggak papa kalau kamu mendadak pergi karena kerjaan.” Ten kembali berbicara dengan topik yang berbeda.

I’ll try. Tadi, tuh, mau telepon kamu biar cepet ngasih taunya, tapi udah keburu dijemput Olin.”

I know it well, Babe,” balas Ten sambil sedikit memajukan tubuhnya ke arahku agar ia bisa mengacak pelan rambut di puncak kepalaku, lalu ia kembali duduk bersandar menikmati pemandangan Jakarta dari lounge outdoor Sky Lounge.

Mataku tak henti memandangi Ten dengan rasa syukur yang kuucapkan berulang kali di dalam hati. Setiap mendapat kesempatan untuk memperhatikan Ten dalam diam, aku selalu berterima kasih kepada Tuhan karena aku dipertemukan dengan lelaki yang luar biasa ini. Ten memang tidak sempurna, aku pun begitu. Tapi ketidaksempurnaan kami saling melengkapi satu sama lain, membuat kami tidak menjadi pribadi yang jumawa terhadap pasangan, tetap belajar dan berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Jo, inget nggak aku ngomong apa waktu pertama kali kita pergi bareng ke Anyer?” Pertanyaan Ten membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng pelan, menunggu Ten melanjutkan kalimatnya.

You always make me nervous, Jo. Kebiasaan ngeliatin aku diem-diem dari dulu ternyata nggak berubah.”

Well, Ten dan kemampuan mengingatnya yang ajaib. Efek dari sifat perfeksionisnya menjadikan Ten memiliki memori yang sangat baik dan sering kali berguna untuk membantuku yang cenderung pelupa.

“Ngeliatinnya kayak kita baru nikah kemarin sore, deh. I know, I know, aku emang seganteng itu.”

Sifat lain Ten yang agak menyebalkan—tapi nggak juga, sih, karena apa yang dia ucapkan benar— adalah narsis.

“Iya, iya, si paling ganteng kesayangan aku. Makasih banyak, ya, Babe.”

Thank you isn’t enough, Jo.”

Aku mengerling. “Kali ini apa lagi, Ten?”

Ten terkekeh pelan. “Nasi uduk Kebon Kacang, yuk? Aku laper banget.”

“Kalo laper kenapa ngajaknya ke Sky Lounge?” tanyaku seraya menghela nafas pelan.

Ten hanya tersenyum kikuk, bersamaan dengan tubuhnya yang kini bangkit berdiri dari kursinya dan tangannya berusaha menggandeng tanganku.

Let’s do our favorite thing.”

Senyumku melebar, tanganku menyambut uluran tangan Ten dengan sumringah.

“Ayo kita pacaran.”