40.
“Kenan!”
“Eh, Mas Pram!”
Seperti laki-laki pada umumnya, Kenan dan lelaki yang menyapanya pagi ini bersalaman lalu saling menabrakan pelan bahu mereka dengan senyum merekah di wajah keduanya.
“Apa kabar, Mas?” tanya Kenan kepada lelaki yang dikenal sebagai salah satu produser musik andal alumni Akademi Musik Indonesia itu.
“Baik, baik … Kamu sendiri?” Mas Pram menepuk-nepuk bahu Kenan. “Dulu kayaknya kamu masih kecil, deh, Ken. Sekarang udah gede aja kamu … udah kuliah.”
Kenan tertawa pelan. “Kan, saya dikasih makan sama orang tua saya, Mas.”
“Eh, iya, kakakmu Sean apa kabar? Dia udah jadi dokter, ya?”
Kenan hendak menjawab pertanyaan Mas Pram, tapi sekelebat bayangan yang sepertinya ia kenal siapa pemiliknya sedikit mendistraksi konsentrasi Kenan.
“Eh, sorry, Mas. Tadi nanya apa, Mas?”
Mas Pram tersenyum tipis dan mengulang kembali pertanyaannya, “Kakakmu, si Sean, apa kabar? Dia udah jadi dokter, ya?”
“Oh, Ko Sean … Iya, Mas. Sekarang praktek di klinik bersama deket rumah.”
“Dia udah nggak main piano lagi?”
Kenan sedikit mengangkat bahunya. “Kalo diseriusin, sih, enggak. Katanya sekarang dia main just for fun aja. Sama sekalian buat release stress.”
Mas Pram mengangguk setuju. “Iya, sih, emang musik bagus buat release stress.”
“Mas Pram, sorry,” Kenan memotong cepat Mas Pram yang terlihat hendak kembali berbicara. “Kalau aku pamit duluan, nggak papa, ya? Sorry banget, nih.”
Mas Pram menggeleng cepat. “Nggak papa banget, Ken. Sorry, sorry, aku jadi ganggu waktu kamu. Kamu mau latihan, ya?”
Kenan hanya nyengir lebar, memamerkan deretan gigi putih rapihnya.
“Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya, Ken.” Mas Pram mengakhiri percakapan pagi itu, ia masuk ke dalam ruangan yang ia tuju sejak awal sementara Kenan pergi menuju kelas yang ia yakini menjadi tujuan seseorang yang ia lihat sebelumnya.
“Dhania?” Meski ia sudah tahu sosok bayangan yang ia lihat tadi adalah Dhania, tetap saja ia merasa heran melihat Dhania sudah tiba di kelas sepagi itu.
“Eh, Kenan.” Dhania menoleh cepat untuk membalas sapaan Kenan, lalu ia kembali menyibukkan diri dengan buku di hadapannya.
“Ngapain?” Pertanyaan Kenan belum sempat dijawab Dhania, tapi ia sudah tahu alasan kenapa Dhania datang lebih awal. “Oh, PR kamu belum selesai?”
Dhania menggeleng pelan, kini ia menanggapi pertanyaan Kenan tanpa sedikit pun melirik ke arah lawan bicaranya. “Bukannya belum selesai, tapi gue lupa. Bego banget.”
Kenan tidak lagi mengajak Dhania berbicara, ia memilih untuk menarik bangku di sisi kanan Dhania dan memperhatikan Dhania dengan tangan kanan menopang dagunya. Melihat kerutan tipis di wajah Dhania dan bibirnya yang sedikit mengerucut akibat soal-soal teori yang tidak mudah, lantas membuat Kenan tersenyum tipis.
“Ken, sorry gue terpaksa nanya. Tapi lo ngerti interval nggak?” Suara Dhania membuyarkan perhatian Kenan akan perempuan itu.
“Hah?” Kenan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membaca soal yang dimaksud Dhania. “Oh, ngerti. Sini aku ajarin biar kamu paham.”
Detik berikutnya Kenan menyulap dirinya untuk sesaat menjadi guru untuk Dhania. Tidak hanya untuk soal tentang interval yang Dhania tanyakan sebelumnya, tapi juga untuk soal-soal lainnya sehingga PR yang Dhania lupa kerjakan dapat selesai lima belas menit sebelum kelas dimulai.
“Thanks, ya, Ken,” ucap Dhania setelah soal terakhir berhasil ia kerjakan. Beberapa siswa lain telah hadir dan menempati bangku pilihan mereka masing-masing.
“Sama-sama, Dhan.” Kenan membalas ucapan terima kasih Dhania sembari merapikan alat tulis miliknya. “Kalo ada yang nggak ngerti tanya aja, ya.”
Dhania mengangguk pelan, ia kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya—berusaha menghubungi Yudha yang sampai detik ini masih belum nampak batang hidungnya. Tadi pagi, Dhania terpaksa meninggalkan Yudha di tengah jalan saat melihat jalanan ibukota lebih padat dibandingkan hari biasa. Ia menumpangi ojek online sementara Yudha terpaksa bermacet-macetan ria seorang diri.
“Anyway, Dhan,” Kenan kembali angkat bicara, spontan membuat Dhania mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. “Nanti siang kita makan siang bareng, yuk? Berdua aja, nggak sama Mr. Ali.”
Sebisa mungkin Dhania berusaha menahan senyumnya agar Kenan tidak salah menilai dirinya. Ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju.
“Oke, boleh.”
“Jam dua belas kurang sepuluh di lobi, ya?”
Dhania kembali mengangguk, sementara Kenan tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat samar menghiasi wajah tampannya.
“Kalo gitu aku pergi dulu.” Kenan pamit undur diri.
“Eh, lo nggak ikut kelas teori?”
Kini Kenan tersenyum tipis. “Aku mau ke toilet dulu, mumpung ada waktu lima menit.”
*
Sesuai janji yang ia buat dengan Kenan, tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit Dhania sudah berdiri menunggu di lobi dan tidak lama kemudian, sosok Kenan muncul menghampiri dirinya. Lelaki itu masih terlihat sama seperti tadi pagi saat membantu Dhania, terlihat tampan dengan senyum menawan yang selalu menghiasi wajahnya.
“Hei, Dhania. Udah nunggu lama, ya?”
“Nggak, kok. Santai aja.”
“Ya udah, yuk? Kita jalan ke Semanggi.”
Dhania mengangguk setuju, kemudian bersama Kenan ia mulai berjalan menyusuri trotoar menuju salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi yang terletak tidak terlalu jauh dari gedung akademi mereka.
“Mau makan kayak kemarin atau makan yang lain, Dhan?” tawar Kenan setelah mereka berdua sudah berada di dalam pusat perbelanjaan itu.
“Yang lain kali, ya …” Dhania mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat restoran yang berderet rapi di lantai dasar. “Kalo makan burger, lo mau nggak, Ken?”
“Burger not bad.” Kenan ikut melihat restoran yang sudah dilihat Dhania terlebih dahulu. “Mau makan di situ?”
“Iya, yuk.”
Kalau kemarin menu makan siang ditentukan oleh Kenan—dan tentunya atas persetujuan Mr. Ali—hari ini Dhania yang menentukan menu makan siang mereka. Kenan pun merasa cukup takjub pada Dhania. Perempuan yang kini sedang sibuk memesan burger pilihannya sedikit berbeda dari perempuan-perempuan yang sering dikeluhkan Sean, kakaknya. Menurut Sean, perempuan cukup rumit saat diajak makan bersama. Tapi tidak dengan Dhania. Mudah baginya untuk menentukan menu makan siang mereka hari ini.
“Kenan lo mau pesen apa?” Pertanyaan Dhania mengembalikan fokus Kenan pada acara makan siang mereka.
“Samain aja sama kamu, Dhan.”
Mendengar jawaban Kenan, Dhania segera memesan dua set cheeseburger dan ice lemon tea sebagai minumnya. Lima menit kemudian, keduanya sudah duduk manis di salah satu meja di sudut restoran.
“Met makan, Dhania.”
“Met makan juga, Kenan.”
Karena merasa canggung dan tidak tahu bagaimana memulai sebuah percakapan, baik Dhania maupun Kenan sama-sama terdiam sambil menyantap burger masing-masing. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, sibuk mencari cara untuk memecah kebisuan di antara mereka.
“Dhania.”
“Kenan.”
Dan ketika mereka berhasil menemukan cara, keduanya saling memanggil di waktu bersamaan, refleks membuat mereka tertawa pelan.
“Lo duluan aja, Ken.”
“Nggak papa, kamu duluan aja, Dhan.”
“Okay,” Dhania menyuap satu kentang goreng dan mengunyahnya cepat sebelum ia mulai berbicara. “Kemarin, tuh, sebenernya lo mau ajak gue makan siang berdua aja, ya?”
Kenan hampir tersedak burger miliknya saat mendengar pertanyaan Dhania yang sangat di luar dugaannya. “Hah? Oh, iya …” Kemudian ia melakukan kebiasaannya saat dihadapkan pada situasi canggung, mengusap tengkuknya pelan. “Aku nggak tau mau ngajak kamu makan siang gimana karena kita belum kenalan secara resmi, makanya aku samperin kamu ke kelas karena aku tau saat itu lagi jadwal kelas piano kamu sama Mr. Ali.”
“Tapi?”
“Tapi aku nggak kepikiran kalo Mr. Ali bakal ikut keluar kelas karena setelah jadwal kamu itu jam makan siang.”
Awalnya Dhania tertawa pelan, tapi karena ekspresi bersalah Kenan terlihat menggemaskan bagi Dhania, tawanya menjadi semakin keras hingga ia perlu mengatur nafasnya untuk dapat kembali berbicara dengan Kenan.
“Kok kamu ketawa, Dhan? Emang lucu, ya?”
Dhania mengangguk-angguk antusias. “Lucu banget, Ken. And I really appreciate your effort.” Dhania kemudian mengulurkan tangannya ke arah Kenan. “Jadi, sekarang mau salaman? Kita buat pertemanan ini jadi official?”
Kenan tersipu malu, wajahnya terlihat sedikit memerah dengan tangan kanannya membalas uluran tangan Dhania. “Oke. Aku Kenan.”
“Dhania.”
“Dhania!”
Mendadak panggilan keras ditunjukkan pada Dhania, persis setelah sang pemilik nama berkenalan ‘resmi’ dengan Kenan. Dhania pun segera menarik tangannya dari genggaman Kenan demi mencari sumber suara yang ternyata tengah berdiri di depan pintu restoran.
“Yudha?”
“Dhania!” Nama Dhania kembali dipanggil Yudha, sambil lelaki itu berjalan dengan langkah besar menghampiri Dhania dan juga Kenan. “Kenapa lagi-lagi lo nggak angkat telepon gue, sih?! Gue dari tadi nyariin lo, tau!”
“Sorry,” Dhania meringis pelan dengan mata melirik ke arah tas di mana ia menyimpan ponselnya di sana. Ia merasa bersalah pada Yudha karena lupa mengabari lelaki itu perihal acara makan siangnya dengan Kenan hari ini.
“Sorry, sorry,” balas Yudha ketus. Ia sekilas melirik ke arah Kenan dengan tatapan tidak senang. “Ayo, balik kampus. Inget, PR lo masih banyak, lo harus latihan.” Yudha kemudian menarik tangan Dhania, memaksa Dhania mengikuti dirinya untuk segera pergi dari situ.
“Yud, gue nanti balik bareng Kenan aja.” Dhania berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Yudha, tapi sia-sia usahanya karena tenaga Yudha dua kali lipat lebih kuat dari dirinya.
“Nggak, baliknya sama gue sekarang.”
“Tapi, Yud—” Belum sempat berpamitan pada Kenan, Dhania sudah terseret keluar dari restoran burger itu. Kenan yang sedari tadi diam—karena tidak tahu harus berbuat apa—pun hanya bisa memandangi Dhania yang masih berusaha melepaskan diri dari Yudha.
“Yudha Bermana!” Setelah keluar tidak jauh dari resto tempat makan siangnya, akhirnya Dhania berhasil melepas tangannya dari cengkeraman Yudha. Ia berteriak cukup keras hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang yang lewat di sekitar mereka.
“Lo apa-apaan, sih?!” Dhania melanjutkan kalimatnya dengan nada marah. “Ngapain lo seret-seret gue kayak tadi, hah?!”
“Gue cuma mau lo balik ke kampus, Dhan.”
“Tapi nggak gitu caranya!” Dhania berteriak semakin marah. Ia tidak peduli dengan pengunjung yang mulai curi-curi pandang sambil berbisik membicarakan dirinya, ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Yudha beberapa saat lalu. “Ditambah lagi tadi gue lagi makan sama Kenan! Gue nggak sendiri, Yudha! Ada Kenan!”
“Kenan lagi,” gumam Yudha pelan. Nama yang akhir-akhir ini cukup sering menjadi topik pembicaraan Dhania dan entah kenapa Yudha tidak terlalu menyukainya.
“Sumpah, lo nyebelin banget hari ini, Yud.” Dengan air mata mulai menggenangi pelupuk, Dhania menutup percakapannya dengan Yudha siang itu dan pergi meninggalkan sahabatnya seorang diri.
Saat ini, yang Dhania butuhkan adalah waktu untuk menyendiri. Untuk menenangkan diri dan juga untuk mengumpulkan keberanian guna meminta maaf kepada Kenan atas perbuatan Yudha yang tidak mengenakan.